Senin, 10 Juni 2013

Pangeran Pencuri (Herr Der Diebe)













Judul: Pangeran Pencuri
Penulis: Cornelia Funke
Halaman: 420 hlm
Rilis: Maret 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama dibantu Penerbit Katalis (Cetakan Kedua)


Masih lanjutan dari novel Ketika dari Aiman, saya nyari novel lagi untuk saya lahap setelah menamatkan novel Ketika.  Dari cover menarik banget dan dari judul juga mengundang saya untuk baca.  Dan waktu itu, kalo nggak salah, saya emang niat pengen baca buku ini tapi keinginan itu menguap entah ke mana sampai akhirnya takdir mempertemukan saya dan buku ini #lebay.  Sebelumnya saya kasih peringatan, buat yang nggak suka buku anak-anak nggak usah baca. Oke, lanjut sinopsis aja, ya.


4,5 from 5 star





Sinopsis:

Selamat datang di Venesia!  Sebuah kota eksotis di Italia yang menawarkan beraneka ragam hal yang hanya mungkin ditemukan di kota air tersebut.  Namun bagi Prosper dan Bo, Venesia hanyalah tempat pelarian karena Prosper tidak ingin adiknya tinggal bersama bibi yang ‘kejam’.  Nasib mempertemukan mereka dengan Tawon, seorang anak perempuan yang ternyata adalah salah satu dari komplotan pencuri yang sering beraksi di sekitar pusat keramaian yang selalu dikunjungi turis.  Prosper dan Bo berkenalan dengan dua anggota lainnya yang bernama Riccio dan Mosca.  Kehidupan mereka bisa dibilang aman untuk sementara, tetapi ternyata bibi dan paman Prosper mengejar kedua anak itu hingga Venesia.  Mereka menyewa jasa detektif penyuka kura-kura bernama Victor untuk menemukan mereka.  Namun berkat usaha cerdik komplotan pencuri, ditambah dengan kelihaian Scipio Sang Pangeran Pencuri (yang merupakan kepala geng komplotan itu), Prosper dan Bo bisa lolos beberapa kali.
Scipio Sang Pangeran Pencuri sangat dihormati oleh komplotan tersebut karena mereka sudah diselamatkan oleh Scipio berkat barang-barang yang dicurinya.  Hingga suatu ketika, saat seseorang bernama Sang Conte menawarkan Scipio untuk beraksi mengambil sayap singa dari rumah seorang wanita tua bernama Ida Spavento, rahasia Scipio terbongkar.   Kekacauan mulai terjadi saat rasa tidak percaya sudah menyebar di antara komplotan tersebut.  Sementara menghadapi masalah dengan Scipio, komplotan tersebut harus beraksi untuk memenuhi tuntutan Sang Conte sambil menghindar dari kejaran Victor.



Review:

Ini cerita anak-anak terbagus selain Enid Blyton dan Roald Dahl dan karya-karya lain yang sudah sudah pernah saya baca sebelumnya.  Mulai dari gaya ceritanya yang mengalir, ceritanya sendiri amat menarik karena jarang ada yang membahas tentang geng komplotan anak-anak yang jadi pencuri (oke, geng Baker Street juga anak-anak terbuang semacam ini tapi itu beda lagi ceritanya) dengan cara yang menyentuh.  Atau saya aja kurang baca, makanya nggak tahu ada cerita lain semacam ini?
Yang membuat karya ini kurang sedikit lagi nilainya (menurut saya sih) adalah... nggak tahu kenapa setiap baca karya Cornelia Funke selalu ada yang kurang.  Ruhnya bisa dibilang agak utuh. Kayak waktu saya baca Inkheart, jujur ide ceritanya bagus dan menarik.  Tapi ada sesuatu yang kurang, entah apa.  Daya tarik inilah yang dimiliki oleh Roald Dahl dan Enid Blyton yang membuat Inkheart dan Pangeran Pencuri beradu tipis dengan karya-karya itu.
Tapi overall, saya suka karena penggambaran kotanya gamblang, dan saya kebayang Venesia pas lagi abad revolusi industri.  Menarik!  Ending cerita benar-benar nggak terduga.  Buat yang pengen tahu, baca sendiri, deh.  Saya nggak mau bagi-bagi spoiler lebih jauh lagi, hehe.
Oh, ya, selain “ruh”, yang membuat karya ini kurang adalah karena sejak awal saya nggak nangkep ada unsur fantasinya di kisah ini.  Diceritakan bahwa sayap itu asal muasalnya berasal dari sayap singa dari sebuah komidi putar, yang apabila dinaiki maka akan mengabulkan permintaan yang mengendarai.  Perubahan yang terjadi dengan Scipio secara tiba-tiba terasa kurang real, walaupun saya tertarik melihat Scipio dewasa seperti apa. Pasti ganteng #tantegirangmodeon.
Tapi buku ini termasuk buku yang akan saya baca berulang kali, berbeda dengan Norwegian Wood.  Berhubung kisahnya ringan dan menghibur, cocok buat dibaca oleh semua kalangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar