Judul: Norwegian Wood
Penulis: Murakami Haruki
Halaman: 554 hlm
Rilis: November 2009 oleh KPG (Cetakan Keempat)
Penulis: Murakami Haruki
Halaman: 554 hlm
Rilis: November 2009 oleh KPG (Cetakan Keempat)
Saya udah cukup lama pengen baca buku ini
gara-gara saya lagi riset, kira-kira buku bersetting Jepang seperti apa? Soalnya rata-rata buku teenlit yang saya baca
sama sekali nggak mendeskripsikan dengan jelas seperti apa Jepang itu. Padahal sebagai orang yang sama sekali nggak
pernah nginjek Jepang (cuma Bandara Narita aja), referensi itu sangat
dibutuhkan, supaya saya nggak salah. Selain itu berhubung ada kaitannya dengan
romance, makanya saya nyari-nyari buku ini setengah mati. Akhirnya diterbitkan lagi, saya punya cetakan
keempat, dan saya langsung beli saat lihat di Togamas Bandung.
4 from 5 star
Sinopsis:
Watanabe Toru mengenang masa lalunya kembali saat mendengar alunan Norwegian Wood karya John Lennon dimainkan ketika ia berada dalam perjalanan. Kisah mulai dibuka ketika ia, Kazuki, dan Naoko berteman saat SMA. Suatu ketika, Kazuki bunuh diri setelah bermain bilyar bersama Watanabe tanpa diketahui sebabnya. Kejadian tersebut membuat luka yang cukup lama bagi Naoko maupun Watanabe, yang membuat keduanya memutuskan untuk meninggalkan Kobe menuju Tokyo.
Kehidupan mahasiswa semasa di Tokyo dilalui
dengan sederhana oleh Watanabe di sebuah asrama khusus mahasiswa dan menemui
beragam macam karakter yang menakjubkan; Kopasgat yang selalu senam setiap pagi
dan perfeksionis dalam masalah kerapian dan kebersihan, Nagasawa-san seorang
jenius yang punya hobi tidur dengan perempuan meskipun sudah punya pacar, juga
dengan kepala asrama dan seorang mahasiswa misterius yang punya kebiasaan
menaikkan Hinomaru (bendera Jepang) setiap pukul enam pagi. Watanabe kembali bertemu dengan Naoko setelah
peristiwa bunuh diri yang dilakukan Kazuki dan hubungan antara keduanya
terjalin rumit. Hubungan tanpa status
pasti. Naoko menghilang dari kehidupan
Watanabe tak lama setelah pertemuan mereka, yang membuat Watanabe merasakan
nelangsa dan kesepian.
Di saat yang sama, Watanabe bertemu
dengan Midori, seorang mahasiswi badung yang punya kebiasaan merokok dan punya
gaya berpikir di luar akal sehat. Kehadiran Midori bisa mengangkat kehampaan
yang dirasakan Watanabe, hingga akhirnya waktu kembali mempertemukan Watanabe
dan Naoko di sebuah rumah sakit jiwa di Kyoto.
Kini sudah waktunya ia memutuskan, apakah ia akan memilih masa lalu atau
masa kini?
Review:
Hmm, jujur aja saya ngerasa
nelangsa juga abis baca buku ini, hehe.
Habis ceritanya tentang kesepian melulu.
Saya masih kasih rating bagus tapi bukan berarti saya akan baca buku ini
lagi dalam waktu lama. Saya punya dua
kebiasaan: baca buku yang sudah saya tamatkan karena saya tertarik, atau
menunggu dalam waktu lama sebelum saya baca lagi. Faktornya pun macam-macam untuk alasan kedua,
dan untuk buku ini adalah karena 1) bicara seks terang-terangan bener-bener
tabu buat saya, 2) bukan jenis cerita yang bisa membuat saya mengulang buku ini
lagi. Faktor pertama, saya bukannya
jijik sama seks. Toh semua yang hidup
melakukan sesuatu untuk berkembang biak, dan entah kapan saat saya nikah juga
pasti akan melakukannya. Tapi... kenapa
ya, saya emang males aja baca penjelasan rinci tentang hubungan seks.
Jepang adalah negara yang
bebas, maka menulis rinci ataupun melihat gambar adegan seks terang-terangan
udah umum di sana, dan udah biasa.
Berhubung saya orang Indonesia dan masih (agak) taat beragama, saya jadi
gimanaa itu. Tahulah ya yang merasakan
juga. Hehe.
Faktor kedua, jenis ceritanya
memang nggak bisa memancing saya untuk baca lagi. Entahlah, menurut saya sih karena terlalu
gloomy. Saya kurang suka dengan cerita
gloomy. Makanya males, hehe.
Tapi saya suka
dengan pengungkapan Watanabe tentang beberapa hal. Diksinya sangat tepat dan nggak membuat saya
males buat melanjutkan lagi ceritanya.
Gaya ceritanya mengalir, walaupun memang ada beberapa kata yang
sebetulnya mungkin kurang pas kalo dipake.
Tapi saya maklum, soalnya saya tahu Pak Jonjon sang penerjemah dari
almarhumah Rei, temen baik saya, dan saya tahu kemampuan beliau dalam
menerjemahkan patut diacungi empat jempol.
Dan sedikit spoiler, beliau pernah diminta menerjemahkan karya milik
Natsume Soseki tanpa ada satu kata dan titik pun yang terlewatkan. Maksudnya, beliau diminta untuk menerjemahkan
sesuai dengan kondisi naskah yang ada, nggak boleh ada kata yang dilewatkan
atau ditambahkan supaya terlihat pas waktu dibaca. Jadi menurut saya, mungkin saat diminta menerjemahkan
Norwegian Wood, kendala dari pihak Jepang memungkinkan Pak Jonjon nggak bisa
menerjemahkan sekehendak hati beliau.
Dari segi cerita,
saya menerjemahkan keadaan Naoko seperti ini: Karena dua peristiwa bunuh diri
yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya di masa lalu, Naoko agak terganggu
jiwanya karena merasakan goncangan hebat setelah itu. Dugaan ngaco saya, sepertinya dia mengalami
schizoprhenia, karena Naoko kerap diganggu oleh halusinasinya sendiri. Naoko nggak bisa melepas masa lalu, dan
itulah yang membuat dia merasa lebih baik mati daripada hidup, karena meskipun
sembuh, keadaannya nggak akan bisa seperti dulu. Akan jauh lebih lemah dari yang dulu dikenal
Watanabe.
Karakter Watanabe
ini menarik. Bukan karena dia suka baca
buku yang berat atau dengar musik Barat melulu, tapi karena ia bisa merasa
damai dalam kesendiriannya. Nggak semua
orang kayak gitu, lho. Meskipun sudah
terbiasa, tapi nggak semua orang bisa menikmati kesendiriannya. Watanabe nggak peduli dengan pendapat orang
lain dan nggak peduli karena nggak punya teman dekat bukan karena sombong dan
egois, tapi karena ia memang menikmati setiap momen yang ia lalui sendiri. Gitu sih tanggapan saya, dan menurut saya hal
itu bisa ditemukan dalam karakter Nagasawa-san.
Bedanya, Nagasawa-san sangat mengagungkan sistemnya sendiri dan itulah
yang membuat ia sama sekali nggak bisa berbaur dengan yang lain. Nggak bisa menyatu dalam kelompok. Saya nggak suka dengan karakter Nagasawa-san
karena ia terlihat, sombong dengan segala hal yang sudah ia capai dan ia
peroleh dengan kesendiriannya, dan juga merendahkan orang-orang di
sekelilingnya. Dan ya, ia kena batunya
setelah Hatsumi bunuh diri.
Yang bikin saya
bingung adalah, endingnya kacau, atau mungkin sengaja dibuat kacau. Saya nggak suka pas Watanabe tiba-tiba seks
sama Reiko-san hanya karena wanita tua itu memintanya untuk seks. Dan lagi pas
Watanabe tiba-tiba menelepon Midori, saya bingung, sebetulnya dia nelepon pas
lagi di masa apa? Apa setelah seks itu
atau saat bertahun-tahun kemudian, waktu Watanabe berusia 37? Berhubung nggak ada penjelasannya, saya simpulkan
dua kemungkinan seperti itu. Tapi kalo
baca naskah aslinya, saya yakin bakal ketahuan di masa apa kejadian itu
terjadi. Soalnya di bahasa Jepang, masa
lampau, masa kini, dan masa depan itu bisa dilihat dari konteks
kalimatnya. Berhubung di bahasa
Indonesia nggak jelas, jadi aja hasil terjemahannya nggak jelas juga.
Dari yang saya
simpulkan dari endingnya, hingga saat ini Watanabe tetap merasa kesepian. Setelah Naoko bunuh diri, setelah Midori
menjauh saat Watanabe menghilang dari Tokyo tak lama setelah ada kabar Naoko
meninggal, ia merasakan sebuah “sumur”, seperti yang dikutip di bagian awal
novel. Karena itu Watanabe sama sekali nggak tahu tujuan hidupnya di mana dan
nggak tahu dia ada di mana sampai sekarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar