Senin, 10 Juni 2013

Norwegian Wood













Judul: Norwegian Wood
Penulis: Murakami
Haruki
Halaman: 554 hlm
Rilis: November 2009 oleh KPG (Cetakan Keempat)

Saya udah cukup lama pengen baca buku ini gara-gara saya lagi riset, kira-kira buku bersetting Jepang seperti apa?  Soalnya rata-rata buku teenlit yang saya baca sama sekali nggak mendeskripsikan dengan jelas seperti apa Jepang itu.  Padahal sebagai orang yang sama sekali nggak pernah nginjek Jepang (cuma Bandara Narita aja), referensi itu sangat dibutuhkan, supaya saya nggak salah. Selain itu berhubung ada kaitannya dengan romance, makanya saya nyari-nyari buku ini setengah mati.  Akhirnya diterbitkan lagi, saya punya cetakan keempat, dan saya langsung beli saat lihat di Togamas Bandung.
4 from 5 star


Sinopsis:

Watanabe Toru mengenang masa lalunya kembali saat mendengar alunan Norwegian Wood karya John Lennon dimainkan ketika ia berada dalam perjalanan.  Kisah mulai dibuka ketika ia, Kazuki, dan Naoko berteman saat SMA.  Suatu ketika, Kazuki bunuh diri setelah bermain bilyar bersama Watanabe tanpa diketahui sebabnya.  Kejadian tersebut membuat luka yang cukup lama bagi Naoko maupun Watanabe, yang membuat keduanya memutuskan untuk meninggalkan Kobe menuju Tokyo. 
Kehidupan mahasiswa semasa di Tokyo dilalui dengan sederhana oleh Watanabe di sebuah asrama khusus mahasiswa dan menemui beragam macam karakter yang menakjubkan; Kopasgat yang selalu senam setiap pagi dan perfeksionis dalam masalah kerapian dan kebersihan, Nagasawa-san seorang jenius yang punya hobi tidur dengan perempuan meskipun sudah punya pacar, juga dengan kepala asrama dan seorang mahasiswa misterius yang punya kebiasaan menaikkan Hinomaru (bendera Jepang) setiap pukul enam pagi.  Watanabe kembali bertemu dengan Naoko setelah peristiwa bunuh diri yang dilakukan Kazuki dan hubungan antara keduanya terjalin rumit.  Hubungan tanpa status pasti.  Naoko menghilang dari kehidupan Watanabe tak lama setelah pertemuan mereka, yang membuat Watanabe merasakan nelangsa dan kesepian.
Di saat yang sama, Watanabe bertemu dengan Midori, seorang mahasiswi badung yang punya kebiasaan merokok dan punya gaya berpikir di luar akal sehat. Kehadiran Midori bisa mengangkat kehampaan yang dirasakan Watanabe, hingga akhirnya waktu kembali mempertemukan Watanabe dan Naoko di sebuah rumah sakit jiwa di Kyoto.  Kini sudah waktunya ia memutuskan, apakah ia akan memilih masa lalu atau masa kini?



Review:

Hmm, jujur aja saya ngerasa nelangsa juga abis baca buku ini, hehe.  Habis ceritanya tentang kesepian melulu.  Saya masih kasih rating bagus tapi bukan berarti saya akan baca buku ini lagi dalam waktu lama.  Saya punya dua kebiasaan: baca buku yang sudah saya tamatkan karena saya tertarik, atau menunggu dalam waktu lama sebelum saya baca lagi.  Faktornya pun macam-macam untuk alasan kedua, dan untuk buku ini adalah karena 1) bicara seks terang-terangan bener-bener tabu buat saya, 2) bukan jenis cerita yang bisa membuat saya mengulang buku ini lagi.  Faktor pertama, saya bukannya jijik sama seks.  Toh semua yang hidup melakukan sesuatu untuk berkembang biak, dan entah kapan saat saya nikah juga pasti akan melakukannya.  Tapi... kenapa ya, saya emang males aja baca penjelasan rinci tentang hubungan seks. 
Jepang adalah negara yang bebas, maka menulis rinci ataupun melihat gambar adegan seks terang-terangan udah umum di sana, dan udah biasa.  Berhubung saya orang Indonesia dan masih (agak) taat beragama, saya jadi gimanaa itu.  Tahulah ya yang merasakan juga. Hehe.
Faktor kedua, jenis ceritanya memang nggak bisa memancing saya untuk baca lagi.  Entahlah, menurut saya sih karena terlalu gloomy.  Saya kurang suka dengan cerita gloomy.  Makanya males, hehe.
Tapi saya suka dengan pengungkapan Watanabe tentang beberapa hal.  Diksinya sangat tepat dan nggak membuat saya males buat melanjutkan lagi ceritanya.  Gaya ceritanya mengalir, walaupun memang ada beberapa kata yang sebetulnya mungkin kurang pas kalo dipake.  Tapi saya maklum, soalnya saya tahu Pak Jonjon sang penerjemah dari almarhumah Rei, temen baik saya, dan saya tahu kemampuan beliau dalam menerjemahkan patut diacungi empat jempol.  Dan sedikit spoiler, beliau pernah diminta menerjemahkan karya milik Natsume Soseki tanpa ada satu kata dan titik pun yang terlewatkan.  Maksudnya, beliau diminta untuk menerjemahkan sesuai dengan kondisi naskah yang ada, nggak boleh ada kata yang dilewatkan atau ditambahkan supaya terlihat pas waktu dibaca.  Jadi menurut saya, mungkin saat diminta menerjemahkan Norwegian Wood, kendala dari pihak Jepang memungkinkan Pak Jonjon nggak bisa menerjemahkan sekehendak hati beliau.
Dari segi cerita, saya menerjemahkan keadaan Naoko seperti ini: Karena dua peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya di masa lalu, Naoko agak terganggu jiwanya karena merasakan goncangan hebat setelah itu.  Dugaan ngaco saya, sepertinya dia mengalami schizoprhenia, karena Naoko kerap diganggu oleh halusinasinya sendiri.  Naoko nggak bisa melepas masa lalu, dan itulah yang membuat dia merasa lebih baik mati daripada hidup, karena meskipun sembuh, keadaannya nggak akan bisa seperti dulu.  Akan jauh lebih lemah dari yang dulu dikenal Watanabe.
Karakter Watanabe ini menarik.  Bukan karena dia suka baca buku yang berat atau dengar musik Barat melulu, tapi karena ia bisa merasa damai dalam kesendiriannya.  Nggak semua orang kayak gitu, lho.  Meskipun sudah terbiasa, tapi nggak semua orang bisa menikmati kesendiriannya.  Watanabe nggak peduli dengan pendapat orang lain dan nggak peduli karena nggak punya teman dekat bukan karena sombong dan egois, tapi karena ia memang menikmati setiap momen yang ia lalui sendiri.  Gitu sih tanggapan saya, dan menurut saya hal itu bisa ditemukan dalam karakter Nagasawa-san.  Bedanya, Nagasawa-san sangat mengagungkan sistemnya sendiri dan itulah yang membuat ia sama sekali nggak bisa berbaur dengan yang lain.  Nggak bisa menyatu dalam kelompok.  Saya nggak suka dengan karakter Nagasawa-san karena ia terlihat, sombong dengan segala hal yang sudah ia capai dan ia peroleh dengan kesendiriannya, dan juga merendahkan orang-orang di sekelilingnya.  Dan ya, ia kena batunya setelah Hatsumi bunuh diri.
Yang bikin saya bingung adalah, endingnya kacau, atau mungkin sengaja dibuat kacau.  Saya nggak suka pas Watanabe tiba-tiba seks sama Reiko-san hanya karena wanita tua itu memintanya untuk seks. Dan lagi pas Watanabe tiba-tiba menelepon Midori, saya bingung, sebetulnya dia nelepon pas lagi di masa apa?  Apa setelah seks itu atau saat bertahun-tahun kemudian, waktu Watanabe berusia 37?  Berhubung nggak ada penjelasannya, saya simpulkan dua kemungkinan seperti itu.  Tapi kalo baca naskah aslinya, saya yakin bakal ketahuan di masa apa kejadian itu terjadi.  Soalnya di bahasa Jepang, masa lampau, masa kini, dan masa depan itu bisa dilihat dari konteks kalimatnya.  Berhubung di bahasa Indonesia nggak jelas, jadi aja hasil terjemahannya nggak jelas juga.
Dari yang saya simpulkan dari endingnya, hingga saat ini Watanabe tetap merasa kesepian.  Setelah Naoko bunuh diri, setelah Midori menjauh saat Watanabe menghilang dari Tokyo tak lama setelah ada kabar Naoko meninggal, ia merasakan sebuah “sumur”, seperti yang dikutip di bagian awal novel. Karena itu Watanabe sama sekali nggak tahu tujuan hidupnya di mana dan nggak tahu dia ada di mana sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar