Judul: Ketika –Saat Cinta Bersilangan
Penulis: Aiman Bagea
Halaman: 312 hlm
Rilis: Mei, 2012 oleh Bukune
Penulis: Aiman Bagea
Halaman: 312 hlm
Rilis: Mei, 2012 oleh Bukune
Waktu itu saya lagi iseng pengen nginep di kostan temen,
selain karena teman sekamar saya di kostan lagi nggak ada. Sambil tidur-tiduran saya nyari buku yang bisa
saya baca, berhubung teman saya juga suka baca novel remaja. Sementara dia ngerjain TA dari bab 1-3, saya
waktu itu malah asyik baca, huehehe #murtad. Saya baru tahu (waktu itu,
sekarang sih udah tahu) kalo Bukune juga menerbitkan karya romantis macam yang
suka diterbitin Gagas Media karena setahu saya Bukune hanya menerbitkan
buku-buku kocak selain menerjemahkan dari karya yang sudah ada.
3
from 5 star
Sinopsis:
Lukisan mendekatkan Naira dan Aji, seorang mahasiswa kedokteran, di suatu pameran lukisan. Ketidaksengajaan itu berbuah pada perkenalan dan pendekatan seorang Aji yang tertarik pada Naira, gadis yang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah karena ingin menjadi pelukis. Sementara Naira sibuk dihantui oleh masa lalu dan kebimbangannya untuk melanjutkan hidup hanya dengan melukis, sahabat dekatnya yang bernama Diba bercerita tentang cowok yang disukainya, bernama Rul. Kedua sahabat ini bersitegang setelah tahu kenyataan aneh yang dihadapi, bahkan Diba sampai mencoba menghilang dari kehidupan Naira. Tidak lama setelah konflik kedua sahabat ini terpecahkan, suatu takdir menunggu Aira dan Aji. Takdir yang akan menentukan kisah akhir mereka.
Review:
KLISE. Satu kata yang sangat menggambarkan keadaan
buku ini. Sebagai novel pertama (iya itu,
ya? Wkwk, suka ngarang aja) ini cukup bagus, karena meskipun sangat klise dan
gampang ditebak, tapi alur yang ditulis oleh pengarang bisa bikin agak hanyut.
Gaya penulisan oke, tapi saya udah pernah bilang sebelumnya. Saya nggak suka diksi dan metafora pemanis
cerita. Diksi ada untuk membuat suatu
karya bernilai, tapi kalo keseringan kayaknya nggak deh. Sebetulnya di Norwegian Wood juga banyak
diksi dan metafora, tapi Murakami-san mampu memadukannya hingga saya bisa
menikmati setiap kata tanpa perlu mengerutkan dahi. Sedangkan untuk novel ini, awal mulanya saya
menganggap “ keren banget!” atau “wah, nggak kepikirin nih buat bikin metafora
macam ini”, jadi “waduh, kalo isinya metafora semua, mana ceritanya?”
Oke, lebay, huehehe. Saya, secara jujur, nggak secerdas Aiman
dalam menulis metafora. Saya hanya menulis yang udah biasa ditulis atau cuma menambahkan
sedikit metafora yang udah pernah dipake orang, berhubung gaya tulisan saya
memang nggak melulu isinya penuh dengan metafora. Dalam hal ini saya acungi jempol, suer. Tapi seperti yang saya sebut tadi, kalo kebanyakan
metafora saya malah jadi terbiasa dengan apa yang ia sebut. Jadi waktu baca metafora lain lagi di bab
selanjutnya, udah nggak kerasa istimewa lagi.
Paling bilang, “oke nih metaforanya, sayang terlalu royal nempatinnya.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar