Judul: As Sweet As Blackberry
Penulis: Sienta Sasyika Novel
Halaman: 272 hlm
Rilis: Maret 2013
oleh Diva Teens
Berhubung novel saya bakal diterbitkan bulan Juni 2013
(ehem, sok banget ngomongnya), jadinya saya penasaran banget sama buku-buku
yang diterbitkan oleh Diva Press. Ok, I wanna tell the truth before we get to
the review. Sebetulnya saya nggak ngeh ada penerbit yang namanya Diva Press
sampai saya beli buku diskonan yang murah meriah tentang cara menghadapi TOEFL
dan cara bikin skripsi yang mudah. Emang baru sih penerbitnya, dan kalo menurut
saya sih (entah ya, saya udah ngilang dari dunia perbukuan cukup lama
sebenernya) kurang kedengeran gaungnya.
Tapi pas saya cek Facebook dan Twitter, ternyata lumayan banyak
follower-nya.
Nah, saya orangnya perfeksionis, alias saya pengen tahu
seperti apa desain cover, jenis kertas, font yang digunakan, dan juga desain
dalam bukunya seperti apa. Jadi aja saya beli satu buku, ngasal, yang penting
terbitan Diva Teens. Dan buku ini
akhirnya jatuh juga ke tangan saya.
2 from 5 star
Sinopsis:
Pertemuan yang sama sekali tidak diduga membuat Sienta
kesal setengah mati terhadap Bintang, cowok yang kini malah jadi pujaan siswi
satu sekolah. Bintang memang ganteng dan
jago merayu cewek, tapi harapan Sienta langsung pupus setelah tahu bahwa
Bintang, tetangga barunya, sok dan punya bad attitude. Padahal Sienta sangat mengharapkan cowok
ganteng nan baik hati yang akan bisa digebet plus bisa dijadiin pacar supaya
Sienta nggak perlu gigit jari saat melihat gebetan lamanya, Rangga, pacaran dengan
artis yang sedang naik daun bernama Rissa.
Namun karena kebersamaan yang mereka lalui, sosok Bintang
jadi berbeda dengan apa yang selama ini Sienta lihat. Sosok yang awalnya terlihat “antagonis” entah
kenapa menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda setelah Sienta mengetahui
suatu fakta tentang Bintang. Namun saat
Bintang kembali dekat dengan mantan pacarnya dan ketika Rangga mulai membuka
hati untuk Sienta, Sienta merasakan dilema.
Apakah sebaiknya ia memberitahukan perasaannya atau lebih baik memendam
dan hanya melihat Bintang dari jauh?
Review:
Saya udah pernah nulis kan di sinopsis sebelumnya yang
berjudul Semusim, dan Semusim Lagi. Saya
emang lumayan pedes ya kalo kritik, tapi saya berusaha untuk objektif dan juga
nggak lupa mengangkat sisi-sisi positif dari sebuah buku. Tapi jujur aja pas
saya baca aja saya udah males dan udah tahu jalan ceritanya kayak apa.
Well, untuk ukuran teenlit, sebetulnya wajar kalo cerita
langsung mudah ditebak. Yang membuat
teenlit menarik adalah pembaca dibuat segreget mungkin dengan situasi pada saat
penulis membuat alur cerita yang, emang bikin greget.
Satu hal yang menurut saya fatal dalam karya ini adalah
bahwa dengan gaya penulisannya yang menurut saya cukup kacau, kok bisa ya
diterbitkan? Nggak, saya nggak
ngejelek-jelekin jalan cerita maupun pengarangnya, tapi jujur aja saya emang
pusing pas bacanya. Ada hal-hal yang
menurut saya mestinya nggak usah gitu-gitu amat. Contoh, saat percakapan
telepon. Apakah perlu percakapan dengan menggunakan gaya penulisan seperti ini?
Sienta: Halo
Bintang: Sienta, ini gue. Bintang
Sienta: Ngapain lo nelepon?
Bintang: Buset, jutek banget. Lagi apa?
Kalo menurut saya, itu mah conversation yang suka ada di
textbook buat belajar bahasa Inggris! Bukan novel! Kenapa nggak sewajarnya aja,
kayak gini:
“Halo.”
“Sienta, ini gue. Bintang.”
“Ngapain lo nelepon?”
“Buset, jutek banget. Lagi apa?”
Walaupun nggak ada namanya, toh pembaca bisa tahu bahwa
yang melakukan percakapan itu siapa, apa isinya, dan lain-lain. Dan saya rasa
isi percakapan di setiap percakapan telepon di buku ini ngalor ngidul, nggak
sesuai dengan jalan cerita.
Dan lagi, saya sama sekali nggak nangkep kenapa judulnya
bisa dibuat As Sweet As Blackberry. Oke, memang ada dua momen saat mereka
memetik blackberry bareng-bareng, tapi akan lebih puitis kalo misalkan blackberry
itu punya nilai tertentu baik bagi Bintang maupun Sienta, blackberry dijadikan
sebuah simbol tentang suatu hal, atau mengingatkan mereka akan sesuatu.
Misalkan, yang membuat Bintang merasa bercampur aduk saat melihat blackberry
adalah karena mantan pacarnya menyimbolkan blackberry seperti kehidupan. “Meskipun
di luar mungkin tidak terlihat cantik, tapi blackberry itu manis. Jadi jangan
judge apapun hanya melihat dari bentuknya, karena kehidupan yang mungkin
terlihat suram bisa mendadak mencecap manisnya setelah berusaha dan berikhtiar”. Nah, bisa jadi misalkan Sienta punya filosofi
yang sama atau kurang lebih sama (yang membuat dia tergila-gila dengan
blackberry) dan Bintang pun akhirnya teringat lagi dengan momen itu, makanya
jadi suka sama Sienta.
Jadi menurut saya, Bintang menjadi novelis itu nggak
perlu karena entah kenapa rasanya numpuk dengan ceritanya itu sendiri. Oh, oke,
dia penulis, katakan seperti itu. Nah terus kontribusi buat ceritanya apa? Saya kira saya nggak bisa lihat dari sisi
itu, atau emang saya aja yang rada nggak bisa mudeng.
Omong-omong saya nggak ngikutin novel Strawberry, jadi
nggak ngerti juga jalan ceritanya apa.
Apa emang sama kayak yang ditulis oleh pengarangnya ataukah nggak, saya
kurang tahu. Tapi menurut saya nggak
perlu diceritain lagi tentang itu di buku selanjutnya, karena bisa jadi ada
orang seperti saya yang berekspresi seperti “apaan nih, nggak ngerti” atau
semacam itu. Lagipula berhubung si artis
nggak menjadi dirinya sendiri alias pake nama lain, saya pusing banget bacanya.
Kalaupun emang mereka menghadiri
pemutaran pertama film “Strawberry”, ceritakan aja tentang para tokohnya saat
mendatangi event itu, nggak perlu sampai cerita tentang isi filmnya. Nggak relevan soalnya.
Omong-omong dari tadi saya kasih kritik yang jelek terus,
ya, hehe. Nggak kok, ini apresiasi saya
aja sebagai pembaca. Toh walaupun novel
saya diterbitkan nggak semua orang suka dengan karya saya juga, kan? Tapi sebagai penikmat buku, saya merasa punya
kewajiban untuk mengoreksi apa yang kurang dari sebuah buku, dan mungkin bisa
diperbaiki ke depannya.
Kalau misalkan segala jenis hal yang saya ceritakan ini
nggak terjadi, saya bisa kasih 3,5, lho.
Jalan ceritanya emang klise sebetulnya, tapi kalau alurnya dibuat
menarik, saya juga jadi mau baca. Jadi,
pesan moral dari tulisan ini adalah, gaya penulisan yang enak dibaca itu sangat
diperlukan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar