Senin, 10 Juni 2013

As Sweet As Blackberry







Judul: As Sweet As Blackberry
Penulis: Sienta Sasyika Novel
Halaman: 272 hlm
Rilis:  Maret 2013 oleh Diva Teens

Berhubung novel saya bakal diterbitkan bulan Juni 2013 (ehem, sok banget ngomongnya), jadinya saya penasaran banget sama buku-buku yang diterbitkan oleh Diva Press. Ok, I wanna tell the truth before we get to the review. Sebetulnya saya nggak ngeh ada penerbit yang namanya Diva Press sampai saya beli buku diskonan yang murah meriah tentang cara menghadapi TOEFL dan cara bikin skripsi yang mudah. Emang baru sih penerbitnya, dan kalo menurut saya sih (entah ya, saya udah ngilang dari dunia perbukuan cukup lama sebenernya) kurang kedengeran gaungnya.  Tapi pas saya cek Facebook dan Twitter, ternyata lumayan banyak follower-nya.
Nah, saya orangnya perfeksionis, alias saya pengen tahu seperti apa desain cover, jenis kertas, font yang digunakan, dan juga desain dalam bukunya seperti apa. Jadi aja saya beli satu buku, ngasal, yang penting terbitan Diva Teens.  Dan buku ini akhirnya jatuh juga ke tangan saya.

2 from 5 star



Sinopsis:
Pertemuan yang sama sekali tidak diduga membuat Sienta kesal setengah mati terhadap Bintang, cowok yang kini malah jadi pujaan siswi satu sekolah.  Bintang memang ganteng dan jago merayu cewek, tapi harapan Sienta langsung pupus setelah tahu bahwa Bintang, tetangga barunya, sok dan punya bad attitude.  Padahal Sienta sangat mengharapkan cowok ganteng nan baik hati yang akan bisa digebet plus bisa dijadiin pacar supaya Sienta nggak perlu gigit jari saat melihat gebetan lamanya, Rangga, pacaran dengan artis yang sedang naik daun bernama Rissa.
Namun karena kebersamaan yang mereka lalui, sosok Bintang jadi berbeda dengan apa yang selama ini Sienta lihat.  Sosok yang awalnya terlihat “antagonis” entah kenapa menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda setelah Sienta mengetahui suatu fakta tentang Bintang.  Namun saat Bintang kembali dekat dengan mantan pacarnya dan ketika Rangga mulai membuka hati untuk Sienta, Sienta merasakan dilema.   Apakah sebaiknya ia memberitahukan perasaannya atau lebih baik memendam dan hanya melihat Bintang dari jauh?


Review:
Saya udah pernah nulis kan di sinopsis sebelumnya yang berjudul Semusim, dan Semusim Lagi.  Saya emang lumayan pedes ya kalo kritik, tapi saya berusaha untuk objektif dan juga nggak lupa mengangkat sisi-sisi positif dari sebuah buku. Tapi jujur aja pas saya baca aja saya udah males dan udah tahu jalan ceritanya kayak apa.
Well, untuk ukuran teenlit, sebetulnya wajar kalo cerita langsung mudah ditebak.  Yang membuat teenlit menarik adalah pembaca dibuat segreget mungkin dengan situasi pada saat penulis membuat alur cerita yang, emang bikin greget.
Satu hal yang menurut saya fatal dalam karya ini adalah bahwa dengan gaya penulisannya yang menurut saya cukup kacau, kok bisa ya diterbitkan?  Nggak, saya nggak ngejelek-jelekin jalan cerita maupun pengarangnya, tapi jujur aja saya emang pusing pas bacanya.  Ada hal-hal yang menurut saya mestinya nggak usah gitu-gitu amat. Contoh, saat percakapan telepon. Apakah perlu percakapan dengan menggunakan gaya penulisan seperti ini?

Sienta: Halo
Bintang: Sienta, ini gue. Bintang
Sienta: Ngapain lo nelepon?
Bintang: Buset, jutek banget. Lagi apa?

Kalo menurut saya, itu mah conversation yang suka ada di textbook buat belajar bahasa Inggris! Bukan novel! Kenapa nggak sewajarnya aja, kayak gini:

“Halo.”
“Sienta, ini gue. Bintang.”
“Ngapain lo nelepon?”
“Buset, jutek banget. Lagi apa?”

Walaupun nggak ada namanya, toh pembaca bisa tahu bahwa yang melakukan percakapan itu siapa, apa isinya, dan lain-lain. Dan saya rasa isi percakapan di setiap percakapan telepon di buku ini ngalor ngidul, nggak sesuai dengan jalan cerita. 

Dan lagi, saya sama sekali nggak nangkep kenapa judulnya bisa dibuat As Sweet As Blackberry. Oke, memang ada dua momen saat mereka memetik blackberry bareng-bareng, tapi akan lebih puitis kalo misalkan blackberry itu punya nilai tertentu baik bagi Bintang maupun Sienta, blackberry dijadikan sebuah simbol tentang suatu hal, atau mengingatkan mereka akan sesuatu. Misalkan, yang membuat Bintang merasa bercampur aduk saat melihat blackberry adalah karena mantan pacarnya menyimbolkan blackberry seperti kehidupan. “Meskipun di luar mungkin tidak terlihat cantik, tapi blackberry itu manis. Jadi jangan judge apapun hanya melihat dari bentuknya, karena kehidupan yang mungkin terlihat suram bisa mendadak mencecap manisnya setelah berusaha dan berikhtiar”.  Nah, bisa jadi misalkan Sienta punya filosofi yang sama atau kurang lebih sama (yang membuat dia tergila-gila dengan blackberry) dan Bintang pun akhirnya teringat lagi dengan momen itu, makanya jadi suka sama Sienta.
Jadi menurut saya, Bintang menjadi novelis itu nggak perlu karena entah kenapa rasanya numpuk dengan ceritanya itu sendiri. Oh, oke, dia penulis, katakan seperti itu. Nah terus kontribusi buat ceritanya apa?  Saya kira saya nggak bisa lihat dari sisi itu, atau emang saya aja yang rada nggak bisa mudeng.
Omong-omong saya nggak ngikutin novel Strawberry, jadi nggak ngerti juga jalan ceritanya apa.  Apa emang sama kayak yang ditulis oleh pengarangnya ataukah nggak, saya kurang tahu.  Tapi menurut saya nggak perlu diceritain lagi tentang itu di buku selanjutnya, karena bisa jadi ada orang seperti saya yang berekspresi seperti “apaan nih, nggak ngerti” atau semacam itu.  Lagipula berhubung si artis nggak menjadi dirinya sendiri alias pake nama lain, saya pusing banget bacanya.  Kalaupun emang mereka menghadiri pemutaran pertama film “Strawberry”, ceritakan aja tentang para tokohnya saat mendatangi event itu, nggak perlu sampai cerita tentang isi filmnya.  Nggak relevan soalnya.
Omong-omong dari tadi saya kasih kritik yang jelek terus, ya, hehe.  Nggak kok, ini apresiasi saya aja sebagai pembaca.  Toh walaupun novel saya diterbitkan nggak semua orang suka dengan karya saya juga, kan?  Tapi sebagai penikmat buku, saya merasa punya kewajiban untuk mengoreksi apa yang kurang dari sebuah buku, dan mungkin bisa diperbaiki ke depannya.
Kalau misalkan segala jenis hal yang saya ceritakan ini nggak terjadi, saya bisa kasih 3,5, lho.   Jalan ceritanya emang klise sebetulnya, tapi kalau alurnya dibuat menarik, saya juga jadi mau baca.  Jadi, pesan moral dari tulisan ini adalah, gaya penulisan yang enak dibaca itu sangat diperlukan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar