Judul: Autumn Changes My Heart
Penulis: Akizakura Rin
Halaman: 166 hlm
Rilis: Mei 2013 oleh PING!!! (Diva Press)
Sekitar hampir seminggu ini saya butek ngerjain TA. Sebetulnya saya yang salah, saya suka nunda-nunda pekerjaan. Padahal kalo saya mau rajin saya bisa selesai awal Juli ini. Makanya saya lagi dikejar-kejar waktu. Moga saya bisa lulus bulan Juli :)
Eniwei, untuk menghilangkan kebutekan kadang saya nonton, tapi biasanya kalo nonton pasti kebablasan. Suer, apalagi kalo berseri. Saya awalnya niat nonton ulang Yamada Taro Monogatari karena saya mendadak suka sama Sakurai Sho, member Arashi (yang tahu alasan bodohnya geleng-geleng kepala) tapi untungnya saya nggak bawa filmnya. Alhasil, saya memutuskan untuk berburu buku.
Saya awalnya niat beli 1Q84 karya Murakami Haruki dan The Enchantress lanjutan dari seri The Secret of The Immortal Nicholas Flamel. Tapi saya terpaksa gigit jari karena di Togamas Bandung habis. Saya juga heran, baru lihat dua hari yang lalu udah abis aja. Sama kasusnya waktu saya mau beli Sunshine Becomes You karya Ilana Tan. Akhirnya saya iseng cari buku yang paling tipis dan murah (selain mau irit, saya juga sadar harusnya saya nggak baca buku tebel karena pasti bakal keterusan). Ini dia salah satunya.
Saya awalnya niat beli 1Q84 karya Murakami Haruki dan The Enchantress lanjutan dari seri The Secret of The Immortal Nicholas Flamel. Tapi saya terpaksa gigit jari karena di Togamas Bandung habis. Saya juga heran, baru lihat dua hari yang lalu udah abis aja. Sama kasusnya waktu saya mau beli Sunshine Becomes You karya Ilana Tan. Akhirnya saya iseng cari buku yang paling tipis dan murah (selain mau irit, saya juga sadar harusnya saya nggak baca buku tebel karena pasti bakal keterusan). Ini dia salah satunya.
Sinopsis:
Akio Rin sudah lama merasa kesepian karena ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan. Peristiwa itu tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga mengubah perilakunya. Gadis ceria ini berubah menjadi kaku seperti robot, dingin dan tampak tidak berperasaan. Hal ini pun berpengaruh kepada orang-orang sekitarnya seperti Aoki Kiyoko dan Aoki Aiko, kedua saudara kandungnya, serta hubungannya dengan salah satu dari duo kembar yang dahulu pernah menjadi sahabatnya, Kimura Kei.
Seiring berjalannya waktu, Rin harus menghadapi bahwa ia tidak bisa terus menerus tenggelam dalam kesedihan. Ia harus bisa menyadari bahwa realita ada tidak untuk ditangisi, tapi dijadikan sebagai bahan pelajaran untuk kehidupan yang akan dilaluinya. Akan ada satu titik di mana ia kembali menemukan kebahagiaan.
Review:
Sebelumnya saya mohon maaf, saya strict kayak biasanya. Padahal saya bisa dibilang penulis pemula juga, dan saya juga sadar novel saya yang saat ini belum terbit belum layak diberi nilai 4 from 5 star. Tapi gimana, ya, udah kebiasaan saya sih mengkritik kalo kerasa kurang pas :)
Jujur, saya sama sekali nggak bisa menemukan konflik apapun di buku ini. Oke, katakanlah misalnya kehilangan ibu adalah konflik utama yang membuat Rin terus menerus bersedih, tapi konflik ini sama sekali nggak kuat. Meskipun memang disajikan bahwa itulah yang membuat tokoh utama berubah, saya malah jadi cenderung bosen karena setiap kali tokoh utama nangis pasti karena inget sama ibunya. Hanya itu terus, tanpa ada penyelesaian pasti akan konflik tersebut. Meskipun ending bahagia, saya nggak menemukan bahwa konflik itu selesai dengan cara yang pas.
Selain itu entah kenapa pas saya baca cerita ini di awal saya nyangka Rin itu masjh SMP. Kesan yang diberikan itu bener-bener kuat, makanya saya kaget waktu tahu Rin ternyata 18 tahun. Dimulai dari cara Kiyoko dan Akio memperlakukan Rin, gaya persahabatan "bocah" antara Rin dan teman-temannya... kalopun pengen bikin hal semacam ini, rasanya hanya bisa ditemukan di daerah. Saya bukannya nyindir, ya, tapi melihat realita yang ada, rasanya aneh banget menemukan cerita semacam ini bisa terjadi di Osaka. Tahu sendiri, kan, pribadi orang-orang di kota besar seperti apa. Karakter masing-masing tokohnya sederhana banget, jadi nggak ada ciri khas orang kotanya itu seperti apa.
Konflik antara Rin dan Kei pun menurut saya nggak jelas. Kenapa bisa saling diam-diaman? Apa penyebabnya? Lalu bagaimana caranya bisa kembali seperti semula? Rasanya kalo tiba-tiba kedekatan mereka dimulai dari saling panggil nama kecil aneh, deh.
Selain itu saya mau protes (oke, Mi, lo memang terlalu detail dalam masalah ini). Begini. Ini kisah tentang Osaka. Osaka itu berada di Kansai. Dialek di Kansai dan di Tokyo itu berbeda. Jadi kalo lihat di drama-drama, biasanya para pemain pake dialek Tokyo kalo berbicara, kecuali kalo memang di skenario ada karakter yang memakai dialek yang lain. Saran dari saya, harusnya ke"Osaka"annya itu ditampilkan dari dialek, misalkan saat menyebut nama:
Selain itu saya mau protes (oke, Mi, lo memang terlalu detail dalam masalah ini). Begini. Ini kisah tentang Osaka. Osaka itu berada di Kansai. Dialek di Kansai dan di Tokyo itu berbeda. Jadi kalo lihat di drama-drama, biasanya para pemain pake dialek Tokyo kalo berbicara, kecuali kalo memang di skenario ada karakter yang memakai dialek yang lain. Saran dari saya, harusnya ke"Osaka"annya itu ditampilkan dari dialek, misalkan saat menyebut nama:
Dialek Tokyo -> Otou-san
Dialek Kansai-> Otou-han
Bisa lihat, kan, bedanya? Belum apa-apa orang awam pun akan merasa "wah, jadi Osaka tuh gini ya" karena menurut pendengaran sehari-hari, partikel -san lebih banyak terdengar daripada partikel -han. Tunjukkan ke"Osaka"annya! Supaya kelihatan keren dan seolah-olah kamu emang ngerti banget soal Osaka (kalo misal belum pernah nginjak kaki di sana) :)
Dan satu lagi, mungkin akan lebih baik jika diceritakan satu atau dua tempat secara detail agar bisa membedakan bahwa kisah ini memang di Osaka. Misalkan, cerita aja soal kunjungan ke Istana Osaka, apa yang ada di sana, seperti apa suasananya, dan lain-lain. Biar pembaca bisa ikut terhanyut dalam sensasi luar negerinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar