Senin, 10 Juni 2013

Semusim, dan Semusim Lagi





Judul: Semusim dan Semusim Lagi
Penulis: Andina Dwifatma
Halaman: 232 hlm
Rilis: April 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama

Ini sebetulnya pengalaman pertama saya review buku secara global. Berbekal dari kesukaan saya mengkritik (maaf untuk para pengarang yang pernah saya kritik, saya bukan tipe yang cepat bisa merasa puas, kecuali memang benar-benar bagus) dan kali ini saya ingin mereview tentang Semusim dan Semusim Lagi.


3,5 from 5 star




Sinopsis:


Seorang gadis (tidak disebutkan namanya) mendapatkan dua pucuk surat pada suatu hari, di mana salah satu surat itu sama sekali misterius.  Yang membuat surat itu terasa ganjil adalah tidak ada nama pengirimnya sama sekali, dan ditulis dengan cara dicetak melalui printer sehingga sama sekali tidak ada jejak contoh tulisan pengirimnya.  Gadis itu baru saja lulus SMA, dan ia bercita-cita menjadi ahli sejarah.  Alih-alih takut akan bahaya surat kaleng, ia justru semakin penasaran dengan surat tersebut.
Surat itu ternyata membawanya pada suatu fakta yang selama ini terkubur bertahun-tahun: ayahnya masih hidup.  Dulu saat gadis itu masih kecil, orangtuanya berpisah tanpa diberitahu penyebabnya, dan gadis itu pun merasa tidak membutuhkan sosok ayah karena selama ini ibunya tidak pernah membicarakan ayah. Ibunya yang seorang dokter bedah selalu sibuk dan jarang berkomunikasi dengan gadis itu di rumah.  Gadis tersebut merasa bingung saat tahu reaksi yang ditimbulkan ibunya saat tahu tentang surat itu.  Meskipun pada awalnya tidak tertarik, tapi akhirnya gadis tersebut memutuskan untuk pergi ke Kota S untuk menemui ayahnya.
Selama tinggal di kota S, ada seseorang bernama J.J Henri yang konon merupakan “tangan kanan” ayahnya yang bertugas untuk mengurusnya selama berada di sana.  Gadis itu berkenalan dengan para tetangganya, dan salah satunya yang cukup nyentrik adalah Oma Jaya yang percaya akan reinkarnasi.   Oma Jaya bercerita bahwa reinkarnasi dari suaminya adalah ikan mas.
Selain itu, ia juga diperkenalkan dengan Muara, anak lelaki J.J Henri yang kuliah di jurusan arsitek dan mempunyai pengetahuan luas mengenai buku dan musik.  Memiliki hobi yang sama ternyata menyeret mereka pada kenyataan yang sama sekali tidak diinginkan dan membuat salah satu dari mereka terpaksa melukai.  Si pelaku sempat ditangkap polisi sebelum akhirnya dibawa ke tempat yang disebut si pelaku adalah Rumah Putih.

Review:


Well, berhubung saya tidak suka memberikan spoiler (baca aja deh dulu, hehehe) jadi saya cuma cerita sedikit.  Yang baca kelanjutan review ini harus siap-siap, soalnya saya bakal banyak spoiler di komentar ini.
Pada awal lihat covernya ngerasa aneh sih.  Soalnya, kenapa ada ikan mas yang tiba-tiba duduk di bangku dan seolah-olah sedang mengajak bicara? Sama sekali tidak nyambung dengan judulnya itu,lho, hehe.  Tapi berhubung penulis adalah pemenang dari DKJ 2012, sebuah ajang kompetisi menulis novel sastra yang rutin diadakan setiap tahunnya, saya jadi tertarik.  Pasalnya saya sendiri pernah mau ikutan Kompetisi DKJ, tapi karena nggak keburu jadi nggak ngirim deh, hehehe.
Kalau menurut saya, gaya penceritaannya lucu.  Maksudnya, kentara sekali terlihat kepolosan dan ketidakpedulian yang benar-benar miris, karena seharusnya hubungan ibu dan anak nggak seperti itu.  Setidaknya seharusnya tidak seperti itu, tapi di sini ditegaskan bahwa hubungan mereka tidak ada ubahnya dengan hubungan antara dua orang asing dipaksa tinggal bersama.  Diksi yang digunakan memang tidak banyak tapi saya memang bukan  tipe orang yang lebay, alias suka menggunakan banyak pemanis kata karena ujung-ujungnya malah jadi capek bacanya. Yah, selera orang beda-beda sih, tapi saya lumayan suka dengan cara penuturannya.  Saya bisa merasakan emosi mendalam dari “Si Aku” yang benar-benar sudah dibutakan dengan cintanya pada Muara (ups, malah spoiler nih :D), dan saat ia benar-benar pasrah menerima takdir untuk tinggal di Rumah Putih.  Hmm, gimana, ya.  Kok hidupnya sedih amat, gitu, hehehe.
Yang cukup membingungkan itu adalah ketika kenapa tiba-tiba saja “Si Aku” ini bisa berbicara dengan Sobron, si manusia atau ikan peliharaan Oma Jaya.  Sejak peristiwa yang menyebabkan “Si Aku” ditangkap polisi, “Si Aku” ini jadi lumayan sering melihat sosok Sobron di mana-mana. Daaaan saat itulah akhirnya saya ngerti. Oh, ternyata gara-gara itu makanya covernya ikan mas -______-.  Jadi karena Sobron. Awal mulanya saya kira ia memang berhalusinasi, dan ternyata… gitu deh. Ternyata dugaan saya bener, hehehe (setidaknya saya merasa begitu).

Sisi yang menarik, meskipun klise, cowok itu di mana-mana emang sama aja ya, hehehe. Maksudnya cowok nggak bener.  Sayangnya “Si Aku” udah terlanjur buta juga, makanya dengan gampangnya menyerahkan apa yang seharusnya tidak ia beri.  Sampai berkali-kali.  Awalnya saya sempet suka dengan tokoh Muara, selain digambarkan cukup ganteng ternyata dia berwawasan luas.  Tapi yaa, dasar cowok semprul. Saya malah jadi benci dia setelah Muara meminta “Si Aku” menggugurkan kandungannya. 
Selain itu penggambaran gimana ternyata kehidupan Mama “Si Aku” yang sebenarnya, juga mengungkap bagaimana ibu dan anak bisa berpisah begitu saja, tanpa tedeng aling-aling.  Dan juga cukup untuk menggambarkan kenapa ayah dan ibunya “Si Aku” berpisah.  Ada lagi yang menarik, si Sobron!  Sejak awal kemunculannya, saya bener-bener kaget dengan kesompralannya saat ngomong, dan juga saat ia benar-benar tidak membantu “Si Aku” meskipun mengaku bahwa ia adalah temannya.  Menakjubkan bagaimana caranya manusia berpikir, dalam keadaan marah dan sedih seperti yang dialami “Si Aku”, saya rasa itulah yang mendorong dia untuk  mencoba menghabisi Muara.  Saya jadi merinding sendiri.

Dari segi kekurangannya sih, hmm, terlalu singkat ya.  Maksudnya, meskipun “Si Aku” ini diberikan “Hope” pada akhirnya, tidak dijelaskan secara rinci apa yang nantinya dia lakukan, lalu juga gimana nasib si Mama, nasib J.J Henri, dan Muara.   Sayang sekali Muara tidak mati (emang pengen aja ini mah, hehehe) dan J.J Henri tidak tahu menahu bahwa anaknya itu durhaka karena sudah berbuat yang tidak-tidak ( :p). Mungkin ada baiknya juga memang diceritakan pertemuan selanjutnya antara “Si Aku” dan Muara, soalnya pas di bagian akhir saya gereget pengen cekek “Muara Khayalan” itu, huehehe. Sebel sih.

Overall, saya nggak bisa kasih rating terlalu banyak sih. Menurut saya kalo nilai rating tertinggi adalah 5, maka nilainya 3,5.  Tapi tiap orang berpendapat beda-beda kan, jadi kalo ingin tahu mendingan langsung aja baca bukunya. 






1 komentar:

  1. Sands Casino & Hotel in Richmond, VA
    Located in the heart of downtown Richmond, Sands Casino & Hotel features a number 메리트 카지노 주소 of slot machines and table games including Blackjack, 바카라 사이트 Roulette, septcasino and video

    BalasHapus