Judul: Autumn Once More
Penulis: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, Shandy Tan
Halaman: 232 hlm
Rilis: April 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
Penulis: Ilana Tan, aliaZalea, Ika Natassa, Hetih Rusli, Anastasia Aemilia, Meilia Kusumadewi, Nina Addison, Christina Juzwar, Harriska Adiati, Lea Agustina Citra, Rosi L. Simamora, Shandy Tan
Halaman: 232 hlm
Rilis: April 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama
Saya agak kaget, di suatu awal April yang mendung (lebay)
tiba-tiba saya langsung “ditodong” oleh buku ini saat memasuki Rumah Buku
Supratman, Bandung. Saya langsung tertarik melihat covernya yang ngejreng
abis, warna merah, dan pada awalnya saya kira ini novel barunya Ilana Tan.
Jujur aja, saya sempet kesel waktu Ilana Tan meluncurkan buku baru,
Season To Remember karena ternyata hanya menceritakan perjalanannya dalam
menulis keempat bukunya itu. Maaf ya, Mbak, tapi saya pribadi sih nggak
perlu tahu prosesnya gimana, hehehe.
Eh taunya, ternyata ini bukanlah novel. Melainkan Kumcer alias Kumpulan Cerpen alias Omnibook (istilah kerennya ya sekarang :)). Saya sebetulnya lebih suka novel dibanding cerpen, soalnya cerpen itu singkat. Tapi sebetulnya saya ngomong gitu karena dari dulu nggak sukses bikin cerpen, huehehe. Ujung-ujungnya sering banget saya bikin “cerpen” jadi sepanjang lebih dari 100 halaman :’)
Oke, stop dulu curhatnya, bisa dilanjutin nanti. Berikut adalah sinopsis dan review dari setiap karya.
Eh taunya, ternyata ini bukanlah novel. Melainkan Kumcer alias Kumpulan Cerpen alias Omnibook (istilah kerennya ya sekarang :)). Saya sebetulnya lebih suka novel dibanding cerpen, soalnya cerpen itu singkat. Tapi sebetulnya saya ngomong gitu karena dari dulu nggak sukses bikin cerpen, huehehe. Ujung-ujungnya sering banget saya bikin “cerpen” jadi sepanjang lebih dari 100 halaman :’)
Oke, stop dulu curhatnya, bisa dilanjutin nanti. Berikut adalah sinopsis dan review dari setiap karya.
3,5 from 5 star
inopsis:
#1 Be Careful What You Wish For: Kisah mengenai “Aku” yang sepertinya bekerja di tempat semacam perusahaan properti atau mungkin biro arsitek (saya belum kerja, jadi ini mah perkiraan saya) yang mengawali kisah dengan menceritakan apa saja yang akan dilakukan seorang perempuan saat menyukai laki-laki. The tricks are similar to mine, and those make me surprise :D. Lalu suatu ketika, entah kenapa ia tiba-tiba jadi memiliki perhatian lebih pada salah satu arsitek yang bekerja di perusahaan yang bernama Gonta. Akhirnya “Aku” tahu bahwa Gonta tinggal di apartemen yang sama namun beda lantai, dan ia memiliki suara yang menurut “Aku”, terdengar seksi. Lalu kejadian bergulir pada masa saat salah seorang teman mereka, yang juga sesama arsitek (di cerita tersebut terdapat 4 sekawan arsitek) yang terbunuh di Mesir, yang saya perkirakan mungkin terjadi ketika kerusuhan di Mesir beberapa waktu lalu. Perusahaan mengadakan acara berkabung dan cukup banyak yang datang saat itu. ”Aku” berusaha menyemangati Gonta yang kehilangan sahabatnya dan ia menerima suatu kejutan yang tidak terduga. Lalu tiba-tiba saja Gonta menghilang dari perusahaan. ”Aku” merasa kesal dan juga cemas setengah mati karena ingin tahu bagaimana keadaan laki-laki itu, dan akhirnya “Aku” membuat permohonan bahwa perasaan suka yang ia simpan pada Gonta akan ia sampaikan jika bisa bertemu lagi. Ending dari cerpen ini cukup sweet dan sakit :)
#1 Be Careful What You Wish For: Kisah mengenai “Aku” yang sepertinya bekerja di tempat semacam perusahaan properti atau mungkin biro arsitek (saya belum kerja, jadi ini mah perkiraan saya) yang mengawali kisah dengan menceritakan apa saja yang akan dilakukan seorang perempuan saat menyukai laki-laki. The tricks are similar to mine, and those make me surprise :D. Lalu suatu ketika, entah kenapa ia tiba-tiba jadi memiliki perhatian lebih pada salah satu arsitek yang bekerja di perusahaan yang bernama Gonta. Akhirnya “Aku” tahu bahwa Gonta tinggal di apartemen yang sama namun beda lantai, dan ia memiliki suara yang menurut “Aku”, terdengar seksi. Lalu kejadian bergulir pada masa saat salah seorang teman mereka, yang juga sesama arsitek (di cerita tersebut terdapat 4 sekawan arsitek) yang terbunuh di Mesir, yang saya perkirakan mungkin terjadi ketika kerusuhan di Mesir beberapa waktu lalu. Perusahaan mengadakan acara berkabung dan cukup banyak yang datang saat itu. ”Aku” berusaha menyemangati Gonta yang kehilangan sahabatnya dan ia menerima suatu kejutan yang tidak terduga. Lalu tiba-tiba saja Gonta menghilang dari perusahaan. ”Aku” merasa kesal dan juga cemas setengah mati karena ingin tahu bagaimana keadaan laki-laki itu, dan akhirnya “Aku” membuat permohonan bahwa perasaan suka yang ia simpan pada Gonta akan ia sampaikan jika bisa bertemu lagi. Ending dari cerpen ini cukup sweet dan sakit :)
Review: Hmm, saya bener-bener pengen
guling-guling karena rangkaian awal kalimat yang diutarakan penulis benar-benar
persis sekali dengan yang saya alami. Kalau udah tahu nama, pasti
ujung-ujungnya mencoba stalk lewat Facebook, di-add (kalau nekat), dan coba
searching nama di Google. Ehm, bukan sesuatu yang patut ditiru :)
Saya kira “Aku” tidak akan pernah bertemu lagi dengan Gonta, tapi jika memang ada kesempatan kedua, tidak ada salahnya memanfaatkan sebaik mungkin. Itulah pesan yang saya tangkap di sini.
Saya kira “Aku” tidak akan pernah bertemu lagi dengan Gonta, tapi jika memang ada kesempatan kedua, tidak ada salahnya memanfaatkan sebaik mungkin. Itulah pesan yang saya tangkap di sini.
#2 Thirty Something: “Aku” adalah seseorang yang sudah bertunangan dengan seorang laki-laki yang dipilihkan eyangnya. ”Aku” berusaha menyembunyikan fakta itu dari sahabatnya karena sebetulnya “Aku” menyukai sahabatnya sendiri. Saat itu “Aku” diundang dalam pesta perpisahannya karena saat itu, sahabat laki-lakinya akan pindah ke Jepang dalam rangka ditugaskan oleh perusahaannya. ”Aku” berusaha membuat semuanya menjadi biasa-biasa saja, alias benar-benar mengikuti farewell party itu sebagai sahabat. Sahabat laki-lakinya (saya lupa namanya siapa) merasa kesal karena “Aku” terlihat sama sekali tidak memberikan respon yang ia harapkan. Suatu kenyataan tentang “Aku” yang hanya disadari si sahabat laki-laki membuatnya galau, dan memutuskan menulis surat serta meminta “Aku” datang ke apartemennya sebagai hal terakhir yang bisa ia lakukan sebelum berangkat ke Jepang.
Review: Klise ya, hehe.
Sahabat makan suka sahabat sendiri itu kayaknya sering banget dijadiin
ide. Cuman yang membuat endingnya menarik, dan pesan yang saya tangkap
dari akhir cerpen itu adalah bahwa setiap manusia itu nggak akan pernah tahu
seperti apa yang dirasakan orang lain terhadapnya. Saat semuanya
terlambat, sudah tidak bisa diulang lagi. Andaikan tahu, sepertinya pertunangan
itu tidak akan pernah terjadi, dan mungkin happy ending :)
#3 Stuck With You: Menceritakan tentang tokoh
“Aku” yang baru saja diterima kerja di sebuah perusahaan yang terletak di
lantai 20. Berhubung kesiangan, ia sampai terpaksa berlari-lari masuk ke
dalam lift agar tidak terlambat. Namun saat lift tersebut akan hendak ke
lantai yang dituju, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat lift tersebut
mendadak mati. ”Aku” terjebak di lift tersebut bersama dua laki-laki
tampan. Ares, yang ternyata merupakan atasannya, memiliki sifat ketus,
cuek, dan dingin. Sedangkan Haris, ia bekerja di perusahaan lain di
lantai yang sama dan menurut “Aku” jauh lebih menyenangkan dibanding Ares
karena ramah dan perhatian. Sejak saat itu “Aku” menjadi sering bersama
Haris, bahkan pada saat makan siang dan pulang, dan entah kenapa di setiap
kesempatan Ares selalu ada di dekatnya. Suatu ketika Ares memberitahukan
kenyataan tentang Haris yang awalnya tidak dipercaya oleh “Aku”. Namun
setelah melihat bahwa Ares tidak berbohong, “Aku” mulai menyadari seperti apa
Haris itu sebenarnya. Cerita ditutup dengan manis, karena setidaknya
“Aku” kini punya teman makan siang tetap yang ganteng :D
Review: Gereget! Selain karena
endingnya, karena Ares juga. Hehe #keceletot. Entah kenapa saya
ngebayangin Ares itu adalah laki-laki usia matang, mungkin sekitar 30an dan ada
sedikit unsur Indo. Saya selalu suka sama tokoh ketus semacam ini karena
sebetulnya mereka tidaklah tampak seperti itu. Malah bisa jadi tokoh
ketus punya perhatian yang lebih tulus daripada laki-laki semacam Haris :D
Yang saya herankan itu, liftnya bobrok, ya. Hehe. Sering banget mati listrik. Tapi saya sendiri sih nggak keberatan kalo harus tinggal di lift sama orang semacam Ares <3 *ok, stop dreaming*
Pesan yang saya tangkap adalah, kejadian ini bener-bener mirip dorama. Rasanya ini hanya mungkin terjadi di dunia imajinasi.
Yang saya herankan itu, liftnya bobrok, ya. Hehe. Sering banget mati listrik. Tapi saya sendiri sih nggak keberatan kalo harus tinggal di lift sama orang semacam Ares <3 *ok, stop dreaming*
Pesan yang saya tangkap adalah, kejadian ini bener-bener mirip dorama. Rasanya ini hanya mungkin terjadi di dunia imajinasi.
#4 Jack Daniel’s vs Orange Juice: Seorang
laki-laki yang hobi clubbing dan minum ternyata bisa juga jatuh cinta dengan
gadis baik-baik berkerudung. Motivasi itulah yang membuat tokoh utama
berusaha untuk agak memperbaiki diri demi dilirik oleh si gadis. Ia
sempat ditertawakan oleh temannya yang juga hobi clubbing karena alih-alih
memesan Jack Daniel kesukaannya, laki-laki itu malah memesan orange juice.
Namun tokoh utama memang sudah bertekad untuk bisa mendapatkan gadis itu
sehingga ia pun melakukan berbagai macam cara untuk bisa terlihat baik,
termasuk jalan kaki bersama keluarga si gadis ke masjid setiap Subuh.
Suatu peristiwa membuat orangtua, termasuk si gadis menghindari tokoh
utama karena saat diajak clubbing (lagi), tokoh utama yang dalam keadaan mabuk
melakukan sesuatu yang membuat keluarga itu tidak suka. Ending kisah
terlalu gampang ditebak, tokoh utama hanya bisa gigit jari saat bertanya pada
RT setempat setelah melihat tenda di rumah si gadis.
Review: Puas. Hal yang membuat saya
puas karena akhirnya nasib si tokoh utama nggak berubah ke arah yang lebih
baik. Salah sendiri hobi clubbing :p.
Yah, saya emang nggak ngerti kebiasaan orang Jakarta sih, atau
orang-orang gaul lainnya yang suka banget ke tempat semacam itu, pesen
cocktail, bir, dan sebagainya. Saya memang nggak gaul,jadi saya tidak
mengerti di mana letak asyiknya menyesap Jack Daniel, yang menurut saya lebih
membakar kerongkongan dibanding Orange Juice. Namun sesuai dengan yang
dipahami tokoh utama, gadis baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik.
Begitu juga sebaliknya. Jadi kalo memang niat cari jodoh, carilah
yang benar-benar bisa membimbing ke arah kebenaran :D
#5 Tak Ada yang Mencintaimu: Dikisahkan seorang laki-laki memiliki ketertarikan dengan seorang perempuan, yang mungkin adalah pelayan di suatu kafe yang memiliki kecantikan yang sanggup membuat tokoh utama duduk lama di dalam kafe hanya untuk memandanginya. Suatu kenyataan membuat laki-laki tersebut geram, karena ternyata perempuan itu memiliki seorang kekasih. Ia pun teringat dengan kata-kata ayahnya di hari ketika ayahnya membunuh ibunya akibat perselingkuhan. ’Perempuan itu hanyalah racun, tidak pantas untuk dicintai’. Ending, saya agak lupa, karena saya juga nggak terlalu mudeng dengan akhir cerpennya. Hehe.
Review: Hmm, aneh! Itu yang saya
pikirkan saat tahu gimana si tokoh utama itu. Dari yang saya tangkap,
cucian banget ya tokoh utamanya. Ia selama ini meyakini bahwa perempuan
itu kotor, tidak ada yang pantas untuk dicintai, dan ironisnya suatu
ketika ia mencintai sosok perempuan yang menurutnya menawan. Kenyataan
bahwa perempuan itu memiliki kekasih membuatnya marah, karena tokoh utama
merasa seolah-olah dikhianati cintanya (padahal nembak aja belum) dan kemudian
ingat lagi dengan kalimat yang dilontarkan ayahnya pada tahun-tahun yang lalu.
Awalnya saya kira tokoh utama itu mau membunuh, tapi sepertinya sih
tidak. Perasaan bercampur aduk di dalam dirinya, antara ingin tertawa
miris, sedih, marah, dan juga cinta yang masih melekat pada sosok itu.
Kebahagiaan yang mengundang tangis (semacam itu kalimat terakhir yang
dilukiskan, diambil dari kalimat Haruki Murakami) menurut saya adalah suatu
kebahagiaan, suatu perasaan cinta yang membuncah namun karena tidak bisa
melakukan apa-apa pada kenyataan, membuat semuanya menjadi menyedihkan.
Jadi, kesimpulannya, tokoh ini masochist :’)
#6 Critical Eleven: Kenangan tokoh “Aku” yang menaiki pesawat untuk urusan bisnisnya. Diceritakan bahwa ia sangat menyukai bandara karena bandara adalah tempat singgah, tempat di mana bisa bertemu ragam manusia dan juga untuk diterka, kira-kira untuk urusan apa mereka pergi ke sana, dan sebagainya. Suatu ketika ia bertemu laki-laki bernama Ale, yang mengaku bekerja di sebuah perusahaan minyak dan jarang sekali berada di ibukota (yang merupakan tempat tinggal sesungguhnya). Mereka banyak bertukar pikiran, mulai dari filsafat tentang toko buku, Jakarta, dan pekerjaan masing-masing. Kenangan itu masih sangat membekas di benak “Aku”, yang membuatnya berharap ingin bisa melupakan kenangan itu karena tahu, kemungkinan untuk bisa bertemu lagi sangatlah tipis.
Review: Hmm, saya belum pernah bukunya
Ika Natassa, tapi kini saya tahu kenapa ia sempat masuk nominasi Khatulistiwa
Award. Ada sesuatu di tulisannya, dan dengan istilah saya sendiri, saya
bilang bahwa karya ini jempolan. Dalam arti bahwa Ika Natassa berhasil
memberikan ruh pada naskahnya. Napas kehidupan yang membuat saya
yakin bahwa ini memang bagus. Endingnya membuat saya agak kecewa sih,
hehe. Tapi yang membuat saya kaget sebetulnya soal asal usul beliau, yang
ternyata seorang bankir! Oalah. Tapi keren, saya salut. Ini adalah
karya yang jika terpisah dari karya-karya lainnya, akan saya beri sendiri
rating 5 from 5 star.
#7 Autumn Once More: Cerita lepas dari Autumn in
Paris ketika Tatsuya masih hidup. Saya tidak akan bercerita banyak,
karena saya tidak begitu ingat alurnya. Dari yang saya ingat, ini adalah
saat momen bahagia mereka ketika masing-masing dari mereka sudah tahu perasaan
masing-masing, dan saat itu mereka sedang berada di semacam theme park.
Tatsuya sepertinya menyadari apa yang membuatnya bisa jatuh cinta pada
Tara.
Review: Padahal ini yang saya tunggu-tunggu, lho.
Maksudnya, dari segi judul pun ini yang diunggulkan. Tapi ternyata
“ngambang” ya, saya tidak bisa merasakan ruh seperti karya Ika Natassa.
Jujur aja, di antara 4 Season karya Ilana Tan tidak ada yang bisa kena di
hati saya, kecuali Spring in London dan Winter in Tokyo. Sebetulnya itu
pun kepengaruh sama Danny Jo, karena dibanding yang lain sepertinya dia yang
paling ganteng, hehehe. Awal mula membaca karya Ilana Tan, menarik, karena ia
berhasil membuat kalimat yang mengalir dan sangat enak untuk diikuti.
Makanya saya sempat mengacu padanya saat membuat novel, dan oleh pihak
Gramedia karya saya disebut “kaku dan mirip novel terjemahan :’)”. Hanya
Spring in London dan Winter in Tokyo saya baca ampe berapa puluh kali.
Entah kenapa hanya di Winter in Tokyo itu saya bisa merasakan ruh (bukan
terpengaruh kegantengan tokohnya), walaupun tidak sekuat ruh yang diberikan Ika
Natassa pada karyanya.
#Her Footprints on His Heart: “Aku” yang
seorang desainer ternama sebentar lagi akan menikah dengan seorang dokter bedah
ganteng. Tapi suatu ketika, tunangannya mengajak ke sebuah tempat bernama
Cassis untuk mempertemukan “Aku” dengan musuh bebuyutannya dan juga ternyata
merupakan cinta pertama tunangannya. Dipengaruhi kecemburuan, “Aku”
kemudian memutuskan hubungan dengan tunangannya, padahal enam bulan lain mereka
akan menikah. Tunangannya akhirnya menyetujui dengan syarat bahwa mereka
hanya tidak akan bertemu satu bulan dan pernikahan akan tetap dilaksanakan.
Selama itu ternyata tunangannya sering mengajak jalan-jalan cinta
pertamanya (berdasarkan laporan mata-mata alias asisten si “Aku” :D) dan
membuat “Aku” sedih. Endingnya tidak terduga dan menurut saya sweet :)
Review: Hmm, ini bagus. Ini
karya lain yang memiliki ruh dan saya suka dengan yang ini. Saya kasih
4,5 out of 5 star. Agak klise sebenarnya waktu cinta pertamanya minta balikan,
tapi syukurlah tunangannya setia. Pesan yang saya tangkap adalah bahwa
butuh kepercayaan dari masing-masing pihak bilang ingin hubungan menjadi
langgeng.
#Love is A Verb: Tokoh utamanya adalah
gadis manja yang childish yang berhasil mendapatkan pacar bernama Angga yang
menurutnya, cowok yang moody. Di sisi lain Angga bisa sangat bersemangat,
dan ada waktu ketika Angga berubah menjadi super cuek dengan kehidupan.
Saya curiga Angga golongan darahnya AB :D
Hanya gara-gara masalah like di Instagram, mereka sampai putus. Dan Angga tidak ingin menghubunginya lagi. ”Aku” merasa kesal (tapi tidak merasa bersalah) karena hal itu, dan ketika “Aku” curhat pada temannya, ia disadarkan dengan suatu fakta yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan benar. Ujung-ujungnya sih, balikan lagi.
Hanya gara-gara masalah like di Instagram, mereka sampai putus. Dan Angga tidak ingin menghubunginya lagi. ”Aku” merasa kesal (tapi tidak merasa bersalah) karena hal itu, dan ketika “Aku” curhat pada temannya, ia disadarkan dengan suatu fakta yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan benar. Ujung-ujungnya sih, balikan lagi.
Review: Aduh, kayaknya selain Autumn Once More ini
sih yang saya kurang suka. Saya benci gadis manja cerewet yang hobinya
minta diperhatiin mulu! Huehehe. Soalnya karakternya beda jauh
dengan saya yang lebih suka melakukan apapun sendiri selama bisa. Saya
memang memandang rendah orang-orang manja nggak tahu diri macem tokoh utamanya
:p
Well, tapi kalo saya laki-laki kayaknya sih jatuh cintrong aja sama yang kayak gini, mungkin dianggep imut, ya. Untung saya perempuan. But anyway, meskipun klise dan saya benci tokoh utamanya, di sisi lain sebetulnya karya ini bagus karena sukses membuat saya benci sama tokoh khayalan :D
Intinya adalah satu. Percaya! Kalau menjalin hubungan dengan orang lain, modal utama adalah percaya dan komunikasi. Kalau nggak ada dua hal itu, udah deh bubar jalan.
Well, tapi kalo saya laki-laki kayaknya sih jatuh cintrong aja sama yang kayak gini, mungkin dianggep imut, ya. Untung saya perempuan. But anyway, meskipun klise dan saya benci tokoh utamanya, di sisi lain sebetulnya karya ini bagus karena sukses membuat saya benci sama tokoh khayalan :D
Intinya adalah satu. Percaya! Kalau menjalin hubungan dengan orang lain, modal utama adalah percaya dan komunikasi. Kalau nggak ada dua hal itu, udah deh bubar jalan.
#Perkara Bulu Mata: Vira, Lilian, Jojo dan Albert
adalah sahabat sejak SMA. Mereka masih sering kumpul bahkan saat
masing-masing dari mereka sudah bekerja. Suatu ketika, hanya Jojo yang
sempat mampir di kafe favorit mereka dan saat itulah Vira mencurahkan segala
kekesalannya yang bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga, kejebur ke got pula
:)). Tiba-tiba saja Vira sadar bahwa hanya dengan bulu mata, Jojo tampak
hmm… tampak bisa menyelesaikan semua masalah. Kenyataan bahwa Vira suka
Jojo sempat membuat mereka bertiga gempar dan Jojo memutuskan untuk menjauh
dari Vira. Saat Vira berhasil menghubunginya lagi, Jojo meminta maaf dan
hubungan mereka pun kembali seperti semula. Hal yang membuat akhir cerpen
ini kocak adalah saat Lilian tahu bahwa Jojo pun tertarik dengan bulu mata
lentik Vira.
Review: Kocak! Saya juga suka
yang ini! I’ll give 4 out of 5 star. Saya nggak ngikutin serial Friends,
tapi kayaknya memang seperti ini, ya. Bedanya cinta mereka ternyata tidak
bertepuk sebelah tangan :D
Pesan yang bisa diambil, jatuh cinta sama sahabat sendiri itu menyulitkan, ya. Namun bukan berarti bahwa jatuh cinta sama sahabat itu terlarang, tapi jika tidak tahu pasti apa yang dirasakan sahabat dan jika tidak nekat, kayaknya lebih baik “mundur” dulu. Banyak mudharatnya :D
Pesan yang bisa diambil, jatuh cinta sama sahabat sendiri itu menyulitkan, ya. Namun bukan berarti bahwa jatuh cinta sama sahabat itu terlarang, tapi jika tidak tahu pasti apa yang dirasakan sahabat dan jika tidak nekat, kayaknya lebih baik “mundur” dulu. Banyak mudharatnya :D
#The Unexpected Surprise: Kisah seorang
anak yang tidak atau hanya sedikit memiliki ikatan batin dengan ibunya.
Itulah yang membuat si anak merasa malas saat berkunjung ke rumah ibunya
karena hal yang akan mereka lakukan hanyalah bertengkar. Benar saja,
karena suatu hal, mereka pun bertengkar dan si anak sempat menyakiti hati
ibunya karena menganggap bahwa ibunya, yang saat ini merupakan ibu rumah
tangga, tidak mengerti apa-apa mengenai dunia kerja yang digeluti si anak.
Rasa bersalah menghantui anak tersebut ketika tahu kenyataan yang tidak
pernah ia tahu tentang ibunya. Ending berakhir baik, karena saya rasa si
anak ingin mencoba memperbaiki hubungan mereka ke arah yang lebih baik lagi,
Review: Huf, andaikan dibikin lebih
gereget saya bakal kasih 4-5 out of 5 star. Soalnya yang membuat menarik
adalah beda dengan karya kebanyakan yang membahas masalah cinta dengan lawan
jenis. Tapi bukan berarti ini jadinya cinta sesama jenis ya, huehehe, ini
mah cinta antara anak dan ibu. Entah kenapa saya jadi inget diri sendiri.
Saya bukan anak yang benar-benar baik dan benar-benar jahat, tapi ada
sewaktu-waktunya saya membangkang dengan melontarkan argumen yang membuat kesal
orangtua :’). Dari sini saya sadar, bahwa seorang ibu benar-benar
memiliki kasih yang tidak terbatas.
#Senja yang Sempurna: Seorang lelaki yang tampaknya
memilih untuk survive sendirian di dunia ini menolak cinta yang diberikan
seorang gadis yang menurutnya menyebalkan. Gadis itu pernah mengibaratkan
bahwa lelaki itu seperti senja, dan ia adalah mataharinya. Namun karena
penolakan bertahun-tahun, gadis itu merasa lelah dan ingin menyendiri dulu.
Saat itulah si laki-laki sadar bahwa ia mencintai matahari itu.
Ketika mereka bertemu lagi, laki-laki itu memesankan senja yang sempurna
bagi si gadis agar bisa berhubungan seperti dulu. Si gadis itu pun
bercerita bahwa setelah ia meninggalkan senja, ia bertemu dengan hujan.
Lelaki yang dapat, atau mungkin bisa memberikan pelangi untuknya jika
mereka bersatu. Si senja hanya bisa gigit jari saat menyadari bahwa
semuanya terlambat.
Review: Hmm, saya ingat cerpen semacam
ini karena sebelumnya saya sudah pernah melihat model penceritaannya di Majalah
Sekar (ketahuan deh saya suka majalah ibu-ibu). Jadi saya tidak merasa
asing lagi dan “oooh, udah biasa”. Saya nggak inget apakah pengarangnya
sama atau nggak. Seandainya saya belum pernah lihat gaya penceritaan yang
ini, saya kasih 4 out of 5 star. :)
Yah, cinta adalah suatu yang tidak bisa diduga, dan ternyata
cinta itu tidak bisa menunggu. Tapi kalo kata saya sih, apa yang
dirasakan perempuan ini bukanlah cinta karena cinta itu bisa menunggu.
Cinta yang tulus itu pasti bisa menunggu. Sampai kapanpun. Jadi,
cucian deh si Senja. Sudahlah, pasti ada yang lebih baik untukmu :)
#Cinta 2 x 24 Jam: Cerpen ini dituturkan dari
sudut pandang yang tidak terduga pada awalnya, tapi setidaknya saat mulai
memasuki bagian tengah saya sudah tahu yang bercerita itu “apa”. Tentang
yang “apa” dengar dari gosip tentang Lingga, calon atasan baru mereka, gosip
para office girl, dan yang “apa” lihat dan membuatnya mengetahui sisi gelap
Lingga yang hanya diketahui “apa”, Tuhan, malaikat, setan, dan Lingga.
Review: Aduh, saya udah pernah baca
dengan gaya penceritaan macem ini sebelumnya jadi nggak surprise lagi, hehe.
Selain itu saya juga pernah baca cerpen dengan gaya penceritaan yang sama
namun bisa membuat emosi saya terlibat juga. Dan menurut saya, dibanding
Mbak Shandy Tan, cerpen temen saya lebih bagus. Maaf ya, Mbak :D
Cuman emang nggak terduga juga sih, pantesan aja ternyata selama ini Lingga homo! Saya nggak sempat kepikiran ke arah situ karena saya masih suka dengan Lingga dan saya mah nggak suudzan, hehehe. Pas adegan french kiss itu… saya udah pernah lihat sebetulnya di manga BL, tapi kalo membayangkan dua laki-laki nyata yang melakukannya jijik juga, ya.
Don’t judge a man by his appearance. Itu sih yang saya dapet, haha.
Cuman emang nggak terduga juga sih, pantesan aja ternyata selama ini Lingga homo! Saya nggak sempat kepikiran ke arah situ karena saya masih suka dengan Lingga dan saya mah nggak suudzan, hehehe. Pas adegan french kiss itu… saya udah pernah lihat sebetulnya di manga BL, tapi kalo membayangkan dua laki-laki nyata yang melakukannya jijik juga, ya.
Don’t judge a man by his appearance. Itu sih yang saya dapet, haha.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar