Selasa, 02 Juli 2013

Under The Same Sky, That Day






Judul: Under The Same Sky, That Day
Penulis: Mimosa Hana
Halaman: ?
Rilis: Juni 2013 oleh DE TEENS


Kapan lagi sih saya bikin review karya saya sendiri :’) #lebay
Dan saya emang punya tujuan untuk bikin review pertama dari semua orang yang mungkin nanti akan baca! Jadi selain saya emang pengarangnya, sayalah yang bikin review pertama kali #okeh #gapenting



3,5 from 5 star





Sinopsis:

Pertemuan Chikusa dengan sosok bertudung putih bernama Shiro sempat membuat Chikusa yakin ia sudah berada di alam baka.  Namun Shiro menegaskan bahwa ia sengaja dibawa ke ruang tanpa batas dan waktu karena mengalami mati suri.  Ia harus menyelesaikan suatu tujuan dengan caranya sendiri.  Untuk melakukannya, Shiro memperlihatkan lagi masa lalunya.
Awal perubahan takdirnya adalah ketika ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dan menetap di Kyoto.  Sejak dulu keadaan Chikusa yang berbeda membuatnya sering menjadi pusat perhatian banyak orang, dan di kota yang sama sekali tidak dikenalnya, ia adalah objek penindasan di sekolah.  Keadaan yang sama sekali asing dan kenyataan pahit mengenai ibu kandungnya yang Chikusa hadapi membuatnya semakin tidak betah.  Namun berkat Okaa-san dan terutama Tateha, adik tirinya, Chikusa bisa menyesuaikan diri.  Perasaannya di antara keduanya pun berubah, mereka menyayangi satu sama lain sebagai laki-laki dan sebagai perempuan.  Namun pernyataan Haruhi sempat membuat Tateha bimbang, dan kesalahpahamannya akan hubungan Chikusa dan Shiori mengakhiri kasih yang tak sempat terungkap.

Perubahan dalam diri Tateha, tumor yang menggerogoti otaknya, dan kehadiran Hikaru, kakak kelas Chikusa yang juga menyukai Tateha membuat segalanya rumit.  Chikusa sempat terperangkap oleh ilusi yang diciptakan ruang tanpa batas dan waktu, yang kemudian menjadi salah satu penentu masa depannya.  Antara hidup dan mati. Antara emosi dan logika.  Hanya ada satu tempat yang menjadi tempatnya berpulang.  Manakah yang Chikusa pilih?

Review:
Yang membuat saya rada menyesal adalah saya tidak bisa memperkenalkan Kyoto layaknya Kyoto.
Sebetulnya saya ingin bisa menggali Kyoto dari sisi modern karena selama ini di berbagai bacaan yang saya baca, kebanyakan mencitrakn Kyoto sebagai Kota Tua Jepang.  Tapi saya gagal membawanya dan jatuhnya malah terkesan seperti memperkenalkan Tokyo.
Jadi jika ada yang bilang karya saya kurangnya disitu, saya setuju.  Saya tidak menjelaskan lebih detail lagi, padahal kalau saya jelaskan mungkin lebih terasa istimewanya dan mungkin pembaca bakal “wah,jadi ini sisi lain Kyoto”.  Maaf buat yang kecewa.
Terlepas dari kekurangan saya dalam masalah setting, saya memang sengaja memperkenalkan dari sisi lain yang mungkin jarang ada di karya orang lain: dialek.  Saya tidak tahu apa ini bisa membuat orang malas baca atau tidak, karena sebagian orang awam  hanya tahu partikel –san, bukan –han, jadi bagi yang tidak terbiasa akan merasa aneh.  Well, itulah Kansai!  Memang tidak pakai –san, tapi pakai –han.  Kata-kata semacam “arigatou” menjadi “ookini”, “ganbatte” menjadi “okubariyasu”, “chotto matte” menjadi “choi matte”... saya sengaja membuat seperti itu untuk memberi kesan bahwa ini bukan di Kanto, tapi di Kansai!
Di sisi lain, saya juga mau memuji diri sendiri karena di saat saya harus mengerjakan Tugas Akhir,  saya bisa mengerjakan novel ini dengan baik. Saya mempelajari metode dari mentor saya yang bernama Steve dan saya sama sekali tidak mengalami writer's block!  Saya berkata jujur karena saya sendiri yang mengalami, dan buktinya dengan menggunakan metode tersebut karya saja jadi dan saya jadi salah satu juara.
Ada satu hal lagi yang membuat saya tergerak dalam menulis sebuah novel berlatar Jepang. Kebanyakan selama ini kisah romance yang saya baca punya alur yang kurang lebih sama, dan meskipun ada yang memakai setting di Jepang, alur ceritanya tidak benar-benar layaknya apa yang dialami di sana (di sini saya berkaca pada shoujo manga dan dorama). Setiap karya yang dihasilkan oleh mangaka atau director di Jepang selalu punya pesan moral. Harap diingat, selalu terselip pesan moral. Itulah yang membuat saya ingin membuat karya yang seperti itu: tidak melulu romance, tapi juga bisa memberi efek positif bagi yang membaca.
Awal mula saya ingin membuat cerita ini karena saya merasa jarang sekali cerita yang memuat tentang mati suri.  Saya tertantang untuk membuat cerita tentang mati suri namun dapat memberikan efek positif bagi yang membaca, karena sebetulnya saya mengajak pembaca untuk merenungi lagi hidupnya, apakah saya sudah bersikap dengan baik atau masih ada kesalahan yang harus diperbaiki? Lalu apakah  bisa memanfaatkan kesempatan kedua jika memang diberi oleh Yang Maha Kuasa?
Kenapa saya mengkritik karya sendiri?  Saya harus bisa mawas diri dalam berkarya dengan tidak melulu lihat ke bawah, tapi lihat ke atas.  Dengan seperti itu, saya tidak gampang puas dan tersanjung dengan pujian.  Jalan saya masih panjang, dan saya ingin bisa menjadi seperti Dee, Andrea Hirata, dan penulis-penulis papan atas lainnya.  Oleh karena itu saya memberi nilai seimbang untuk karya pertama saya :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar