Selasa, 02 Juli 2013

Seishun no Tabi








Judul: Seishun no Tabi
Penulis: Tangguh Alamsyah
Halaman: ?
Rilis: Juni 2013 oleh Diva TEENS


Sejak memenangkan lomba dan tahu ada dua pemenang lain selain saya, saya sudah tertarik membaca karya pesaing saya J. Jujur, saya pengen tahu kenapa mereka pun terpilih sebagai pemenang.  Sebagus apa sih karya yang mereka buat sampai bisa jadi juara satu dan dua?




3,75 from 5 star





Sinopsis:

Ashiya dihadapkan oleh peristiwa yang bisa mengubah hidup yang dijalankannya: ia ternyata adalah salah seorang pewaris kekayaan dari seorang konglomerat bernama Marushita-san.  Ashiya harus memilih, apakah ia nantinya akan ikut bertanding dengan pewaris lainnya, ataukah mundur dan menikmati sejumlah uang yang tidak seberapa nilainya dibanding nilai warisan?  Bersama partnernya, Watanabe Akira, ia harus memecahkan berbagai petunjuk yang bertebaran di berbagai daerah di Jepang dengan hanya mengandalkan 75.000 yen dan sebuah tas untuk bertahan hidup.  Mereka pun harus menghindar dari pembunuh misterius yang mengincar hampir semua ahli waris.  Apakah Ashiya dan Akira dapat memenangkan pertandingan?


Review:
Akhirnya saya mengerti kenapa karya ini bagus.  Saya nggak bohong.  Soalnya saya selalu jujur dalam masalah review buku, dan cukup jarang penulis pemula yang saya kasih rate sebesar itu.
Ada satu hal yang saya percaya dari karya penulis yang diterbitkan karena memenangkan lomba: karya mereka bukanlah karbitan, karena karya orang yang memenangkan suatu perlombaan adalah hasil jerih payah yang dibangun entah selama berapa tahun.  Soalnya saya sendiri harus berjuang 8 tahun dengan empat kali gagal menang lomba dan empat kali ditolak penerbit supaya buku saya bisa diterbitkan. Mungkin kedua juara yang lain juga mengalami hal yang sama.
Sama seperti penyanyi, seorang penyanyi yang bagus dan karyanya nggak akan lekang oleh waktu adalah penyanyi yang berusaha dari panggung ke panggung, penyanyi yang berusaha untuk menang di suatu festival musik, bukan bentukan atau dari hasil audisi dari perusahaan rekaman semata.  Jadi ya, itulah penilaian saya terhadap yang menang lomba.
Balik lagi ke review bukunya, saya bahas yang poin minusnya dulu, ya :D.  Sebetulnya yang kurang dari buku ini adalah tidak menjelaskan soal ciri-ciri masing-masing peserta di awal kisah jadinya saya kaget waktu tahu Akira ternyata masih bocah. Saya kira Akira udah  om-om :p, dan nggak berkacamata dan nggak dingin.  Saya ngebayangin Akira adalah sosok yang suka meremehkan orang tapi nggak terlalu berotak juga (maaaaf, jangan geplak saya!)

Menurut saya, si senpai yang disukai Ashiya (saya lupa namanya) dihapus pun tak mengapa berhubung nggak detail soal apa yang ia alami dengan sang senpai, karena toh fokus romance-nya bakalan ke Akira dan Ashiya. Ya, tapi mungkin ada maksud lain kenapa si senpai ada di sini.
Satu lagi, terus terang  semua peserta lancar-lancar saja ya sewaktu menemukan petunjuk. Kalau kata saya mungkin ada baiknya ada yang tersesat atau dia salah menerjemahkan petunjuk makanya jadi nggak bisa memenangkan pertandingan.  Soalnya kalau dari awal hampir semua mengarah ke tempat yang sama setelah membaca petunjuk, ketahuan sekali siapa pembunuh misteriusnya. Kalau ada adegan semacam begitu bisa jadi “jeng... jeng... jeng... ternyata pembunuh misteriusnya adalah....!” -> bayangan saya, bukan yang memang ditulis penulis
Sekarang saya akan bahas poin plusnya. Segi ceritanya unik buat di Indonesia, walaupun sebetulnya tema ini memang udah pasaran kalau di dorama dan film Jepang (dari segi para peserta yang banyak,ada suatu permainan yang harus dilakukan, ada pembunuh bayangan, dll entah kenapa mengingatkan saya sama Liar Game, Battle Royale, Mirai Nikki ,walaupun memang nggak sama-sama amat sebetulnya).  Dan penulis memang mengeksplor Jepang, sesuatu yang nggak kepikiran buat saya :’) dan cara menjelaskannya bisa dimengerti, detail, tapi nggak terkesan kayak lagi di-tour guide sama pemandu wisata. Soalnya, saya sudah pernah baca beberapa buku Indonesia yang memakai setting Jepang dan kesan tour guide-nya sangat terasa, sesuatu yang nggak saya suka -__-.
Mungkin kalau pembunuh misteriusnya nggak gampang ditebak bakalan lebih terasa ya, ketegangannya J. Saya jadi ingat movie Conan yang tentang Patung Budha waktu membayangkan pembunuh misterius pake Topeng Hannya (atau memang terinspirasi dari sana ya :D). Memang cocok jadi image pembunuh misterius.
Gaya bercerita lugas, enak dibaca, dan nggak kosong.  Karya ini ada ruhnya, karena bisa dilihat bahwa penulis punya kecintaan besar terhadap Jepang :)

  

1 komentar:

  1. waaw... makasi atas resensinya yg jujur.
    sering aku takut para resensor akan nulis yg bagus2 doang karena faktor "gak-enak-hati-kalo-jujur"...

    terlepas dari resensi itu, aku juga nemu 1001 kekurangan di novel itu. tapi seperti seorang ibu, walau bagaimana pun tetap cinta sama sang "anak"

    tunggu resensinya balasannya y?! (alnya baru beli kemaren malem) :D

    salam kreatif.

    BalasHapus