Judul: Seishun no Tabi
Penulis: Tangguh Alamsyah
Halaman: ?
Rilis: Juni 2013 oleh Diva TEENS
Penulis: Tangguh Alamsyah
Halaman: ?
Rilis: Juni 2013 oleh Diva TEENS
Sejak memenangkan lomba dan tahu ada dua
pemenang lain selain saya, saya sudah tertarik membaca karya pesaing saya J. Jujur, saya pengen tahu kenapa mereka pun
terpilih sebagai pemenang. Sebagus apa
sih karya yang mereka buat sampai bisa jadi juara satu dan dua?
3,75
from 5 star
Sinopsis:
Ashiya
dihadapkan oleh peristiwa yang bisa mengubah hidup yang dijalankannya: ia
ternyata adalah salah seorang pewaris kekayaan dari seorang konglomerat bernama
Marushita-san. Ashiya harus memilih,
apakah ia nantinya akan ikut bertanding dengan pewaris lainnya, ataukah mundur
dan menikmati sejumlah uang yang tidak seberapa nilainya dibanding nilai
warisan? Bersama partnernya, Watanabe
Akira, ia harus memecahkan berbagai petunjuk yang bertebaran di berbagai daerah
di Jepang dengan hanya mengandalkan 75.000 yen dan sebuah tas untuk bertahan
hidup. Mereka pun harus menghindar dari
pembunuh misterius yang mengincar hampir semua ahli waris. Apakah Ashiya dan Akira dapat memenangkan
pertandingan?
Review:
Akhirnya saya mengerti kenapa karya ini bagus. Saya
nggak bohong. Soalnya saya selalu jujur
dalam masalah review buku, dan cukup jarang penulis pemula yang saya kasih rate
sebesar itu.
Ada satu hal yang
saya percaya dari karya penulis yang diterbitkan karena memenangkan lomba:
karya mereka bukanlah karbitan, karena karya orang yang memenangkan suatu
perlombaan adalah hasil jerih payah yang dibangun entah selama berapa
tahun. Soalnya saya sendiri harus
berjuang 8 tahun dengan empat kali gagal menang lomba dan empat kali ditolak
penerbit supaya buku saya bisa diterbitkan. Mungkin kedua juara yang lain juga
mengalami hal yang sama.
Sama seperti
penyanyi, seorang penyanyi yang bagus dan karyanya nggak akan lekang oleh waktu
adalah penyanyi yang berusaha dari panggung ke panggung, penyanyi yang berusaha
untuk menang di suatu festival musik, bukan bentukan atau dari hasil audisi
dari perusahaan rekaman semata. Jadi ya,
itulah penilaian saya terhadap yang menang lomba.
Balik lagi ke
review bukunya, saya bahas yang poin minusnya dulu, ya :D. Sebetulnya yang kurang dari buku ini adalah
tidak menjelaskan soal ciri-ciri masing-masing peserta di awal kisah jadinya saya kaget waktu
tahu Akira ternyata masih bocah. Saya kira Akira udah om-om :p, dan nggak berkacamata dan nggak
dingin. Saya ngebayangin Akira adalah
sosok yang suka meremehkan orang tapi nggak terlalu berotak juga (maaaaf,
jangan geplak saya!)
Menurut saya, si senpai yang disukai Ashiya (saya lupa namanya) dihapus pun tak
mengapa berhubung nggak detail soal apa yang ia alami dengan sang senpai,
karena toh fokus romance-nya bakalan ke Akira dan Ashiya. Ya, tapi mungkin ada
maksud lain kenapa si senpai ada di sini.
Satu lagi, terus
terang semua peserta lancar-lancar saja ya sewaktu menemukan petunjuk.
Kalau kata saya mungkin ada baiknya ada yang tersesat atau dia salah
menerjemahkan petunjuk makanya jadi nggak bisa memenangkan pertandingan. Soalnya kalau dari awal hampir semua mengarah ke tempat yang sama setelah membaca petunjuk, ketahuan sekali siapa pembunuh misteriusnya. Kalau ada adegan semacam begitu bisa jadi “jeng... jeng... jeng... ternyata pembunuh misteriusnya adalah....!” ->
bayangan saya, bukan yang memang ditulis penulis
Sekarang saya akan
bahas poin plusnya. Segi ceritanya unik
buat di Indonesia, walaupun sebetulnya tema ini memang udah pasaran kalau di
dorama dan film Jepang (dari segi para peserta yang banyak,ada suatu permainan
yang harus dilakukan, ada pembunuh bayangan, dll entah kenapa mengingatkan saya
sama Liar Game, Battle Royale, Mirai Nikki ,walaupun memang nggak sama-sama amat
sebetulnya). Dan penulis memang
mengeksplor Jepang, sesuatu yang nggak kepikiran buat saya :’) dan cara
menjelaskannya bisa dimengerti, detail, tapi nggak terkesan kayak lagi di-tour
guide sama pemandu wisata. Soalnya, saya sudah pernah baca beberapa buku Indonesia
yang memakai setting Jepang dan kesan tour guide-nya sangat terasa, sesuatu
yang nggak saya suka -__-.
Mungkin kalau pembunuh misteriusnya nggak gampang ditebak bakalan lebih terasa ya,
ketegangannya J. Saya jadi ingat
movie Conan yang tentang Patung Budha waktu membayangkan pembunuh misterius pake
Topeng Hannya (atau memang terinspirasi dari sana ya :D). Memang cocok jadi
image pembunuh misterius.
Gaya bercerita
lugas, enak dibaca, dan nggak kosong.
Karya ini ada ruhnya, karena bisa dilihat bahwa penulis punya kecintaan
besar terhadap Jepang :)

waaw... makasi atas resensinya yg jujur.
BalasHapussering aku takut para resensor akan nulis yg bagus2 doang karena faktor "gak-enak-hati-kalo-jujur"...
terlepas dari resensi itu, aku juga nemu 1001 kekurangan di novel itu. tapi seperti seorang ibu, walau bagaimana pun tetap cinta sama sang "anak"
tunggu resensinya balasannya y?! (alnya baru beli kemaren malem) :D
salam kreatif.