Selasa, 02 Juli 2013

Raksasa Dari Jogja











Judul: Raksasa Dari Jogja
Penulis: Dwitasari
Halaman: 270 hlm
Rilis: November 2012 oleh Plot Point


Awal mula ketertarikan saya untuk membaca buku ini adalah komen penulis, Dwitasari, tentang jenis-jenis cerita romance yang selalu menokohkan cowok ganteng  dan cewek yang cantik ataupun manis sebagai tokoh sentral. Well, saya setuju juga, karena kebanyakan emang itu (termasuk saya juga, demen bikin hal seperti itu :p).  Sebagai bentuk protes, Dwitasari menulis sebuah kisah dengan tokoh utamanya yang berupa raksasa J



2 from 5 star





Sinopsis:

Bianca tidak mengenal cinta.  Baginya, cinta hanyalah sebuah rasa yang tidak bisa ia mengerti karena KDRT yang dialami oleh ibunya menyebabkan ia tidak mengerti apa arti sebuah cinta.  Apakah kekerasan sesungguhnya adalah bentuk cinta?  Ataukah penindasan?
Namun di balik itu semua, Bianca ingin mengenal apa itu cinta.  Ia mempunyai banyak koleksi buku tentang cinta untuk bisa memahaminya.  Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Joshua, orang yang ia rasa dapat memberikan pengetahuannya tentang cinta.  Namun sebelum bisa mengerti, ia menghadapi pengkhianatan Letisha yang ternyata sudah merebut Joshua dari sisinya.
Keputusan Bianca untuk pergi ke Jogja menghindari dua hal: Letisha dan kejenuhannya terhadap perlakuan pria yang dahulu bisa ia sebut sebagai Papa. Bianca ingin bisa memulai hidup baru tanpa dua hal itu, sampai akhirnya ketika ia bertemu dengan seorang raksasa yang tidak rupawan di salah satu sudut Kota Jogja.  Raksasa itu yang mengubah kehidupan Bianca yang semula kacau.  Namun pernyataan Kevin, sepupunya, sempat membuat Bianca bimbang terhadap kebaikan yang ditunjukkan oleh raksasa bernama Gabriel.  Apakah ia sama saja dengan laki-laki pada umumnya ataukah justru berbeda?



Review:
Hmm, entah kenapa saya nggak bisa antusias ya, baca ini.  Padahal saya dengar gaungnya bahwa buku ini best seller, tapi yang saya beli sebetulnya masih cetakan pertama.  Kalo saya lihat di resensi orang lain, ada juga yang sudah membeli saat cetakan kedua.  Jadi, apakah tolak ukur best seller karena masalah jumlah cetakan? I dunno J
Dwitasari mampu merangkai kata dengan baik dan cukup enak dibaca, tapi saya nggak bisa melihat bahwa ia merangkai kata dengan hati.  Terasa kosong, dan kebanyakan metafora yang menurut saya nggak perlu.  Entah apa ini emang ciri khas Plot Point atau gimana, yang jelas tiap kali saya beli buku dari penerbit ini emang kayak gitu rata-rata, mengedepankan metafora yang terlalu bertebaran ke sana kemari.
Well, saya sendiri sudah bilang di review “Ketika”, saya nggak suka buku yang bertaburan dengan metafora namun kosong maknanya.  Memang agak sulit untuk bisa membuat sesuatu yang bertabur metafora namun tetap bisa membuat saya tetap semangat membacanya seperti Norwegian Wood, jadi kalo menurut hemat saya, alih-alih menggunakan kata-kata kosong lebih baik memakai kata-kata yang memang berasal dari hati.  Mentor saya (secara tidak langsung ia adalah mentor) yang bernama Steve mengatakan bahwa jika ingin sebuah karya dianggap layak, mulailah menulis sesuai dengan gaya bicara masing-masing individu.  Ini bener-bener terjadi, saya bisa jamin bahwa jika ada penulis yang menulis dengan gaya bicaranya sendiri, maka dengan sendirinya gaya khas pengarang akan muncul dan nggak akan kehilangan kata, dan nggak akan membuat sesuatu yang kosong.
Lanjut lagi ke review tentang isi buku, saya di sini dapet kesan kalo Bianca malah melarikan diri saat ibunya kena masalah, padahal harusnya tetap bisa bertahan, ya. Maksudnya, kalo emang kasian kenapa harus ke Jogja?  Kenapa nggak bareng sama ibunya aja?  Well, mungkin maksud penulis supaya ada cerita ketemu dengan raksasa ya, wong judulnya aja Raksasa Dari Jogja.  Tapi tetep aja sih saya mah nggak akan tega ninggalin ibu saya dalam keadaan seperti itu :(
Terus yang bikin aneh: Bianca nggak kenal cinta.  Menurut saya harusnya dia nggak kenal kata suka juga.  Tapi kenapa sakit hati pas Joshua direbut Letisha? Lah, katanya ia tidak mengenal cinta?  Jadi harusnya sih gini: Bianca nggak kenal cinta, tapi perlahan hal tersebut luntur saat menyaksikan Joshua melakukan sesuatu, entah apa itu.  Ketulusan yang dimiliki Joshua yang membuat Bianca bertanya-tanya apakah ia mulai bisa mengerti cinta jika mencoba menyukai Joshua?  Hatinya yang sakit itu karena ia merasakan ironi, pada saat bersamaan sesungguhnya Bianca sudah mulai mengenal apa itu cinta, tapi hal itu akibat ulah Letisha yang terkesan merebut Joshua darinya.  Nah, kalo alurnya kayak gitu kayaknya bisa disebut pas, deh.
Dan omong-omong soal Gabriel, saya nggak ngerti akan suatu hal.  Kalo memang Gabriel digambarkan nggak ganteng, saya nggak bisa nangkep itu karena sejak awal cerita pun digambarkan bahwa ia berdada bidang.  Hmm, ini mah persepsi saya aja sih, tapi cowok-cowok berdada bidang bukannya biasanya agak ato punya daya tarik ke arah ganteng ya?  Atau bisa disebut menarik?  Ini yang menurut saya agak rancu, harusnya sih kalo emang mau menggambarkan bahwa Gabriel tidaklah seperti cowok lain, kayaknya soal itu nggak usah disorot berulang-ulang, bahkan nggak perlu.  Harusnya yang disorot, misalkan “matanya yang bening” atau “lesung pipitnya yang justru menambah keanehan mukanya entah kenapa bisa membuat Bianca takjub”, atau hal-hal kayak gitulah.  Jadi meskipun nggak ganteng tapi Gabriel punya poin lain yang nggak dimiliki oleh laki-laki lain, karena kalo poinnya hanya dada yang bidang itu mah kesannya malah jadi ngegambarin cowok ganteng (abis rata-rata penilaiannya emang gitu kan :p  )
Terus satu hal lagi, kayaknya soal Jogja kota istimewa juga nggak harus ditulis berulang-ulang deh, semua orang juga tahu Jogja istimewa.  Kalo mau tulis sesuatu yang berkaitan dengan keistimewaan itu secara tersirat yang bisa membuat orang kagum dan ngerasa baru ngeh Jogja itu istimewa.  Soalnya kalo saya pribadi, saya sih nggak mau balik lagi ke Jogja berhubung saya tidak merasakan keistimewaannya J
Overall, saya nggak bisa sebut ini istimewa meskipun best seller, tapi saya salut sama penulis karena karyanya best seller.  Well, mungkin ada poin lain yang nggak bisa saya lihat kenapa bukunya bisa best seller J


Tidak ada komentar:

Posting Komentar