Judul: Raksasa Dari Jogja
Penulis: Dwitasari
Halaman: 270 hlm
Rilis: November 2012 oleh Plot Point
Penulis: Dwitasari
Halaman: 270 hlm
Rilis: November 2012 oleh Plot Point
Awal mula ketertarikan saya untuk membaca
buku ini adalah komen penulis, Dwitasari, tentang jenis-jenis cerita romance
yang selalu menokohkan cowok ganteng dan
cewek yang cantik ataupun manis sebagai tokoh sentral. Well, saya setuju juga,
karena kebanyakan emang itu (termasuk saya juga, demen bikin hal seperti itu
:p). Sebagai bentuk protes, Dwitasari
menulis sebuah kisah dengan tokoh utamanya yang berupa raksasa J
2
from 5 star
Sinopsis:
Bianca tidak
mengenal cinta. Baginya, cinta hanyalah
sebuah rasa yang tidak bisa ia mengerti karena KDRT yang dialami oleh ibunya
menyebabkan ia tidak mengerti apa arti sebuah cinta. Apakah kekerasan sesungguhnya adalah bentuk
cinta? Ataukah penindasan?
Namun di balik itu semua, Bianca ingin mengenal apa itu cinta. Ia mempunyai banyak koleksi buku tentang cinta untuk bisa memahaminya. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Joshua, orang yang ia rasa dapat memberikan pengetahuannya tentang cinta. Namun sebelum bisa mengerti, ia menghadapi pengkhianatan Letisha yang ternyata sudah merebut Joshua dari sisinya.
Namun di balik itu semua, Bianca ingin mengenal apa itu cinta. Ia mempunyai banyak koleksi buku tentang cinta untuk bisa memahaminya. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Joshua, orang yang ia rasa dapat memberikan pengetahuannya tentang cinta. Namun sebelum bisa mengerti, ia menghadapi pengkhianatan Letisha yang ternyata sudah merebut Joshua dari sisinya.
Keputusan
Bianca untuk pergi ke Jogja menghindari dua hal: Letisha dan kejenuhannya
terhadap perlakuan pria yang dahulu bisa ia sebut sebagai Papa. Bianca ingin
bisa memulai hidup baru tanpa dua hal itu, sampai akhirnya ketika ia bertemu
dengan seorang raksasa yang tidak rupawan di salah satu sudut Kota Jogja. Raksasa itu yang mengubah kehidupan Bianca
yang semula kacau. Namun pernyataan
Kevin, sepupunya, sempat membuat Bianca bimbang terhadap kebaikan yang
ditunjukkan oleh raksasa bernama Gabriel.
Apakah ia sama saja dengan laki-laki pada umumnya ataukah justru
berbeda?
Review:
Hmm, entah kenapa
saya nggak bisa antusias ya, baca ini.
Padahal saya dengar gaungnya bahwa buku ini best seller, tapi yang saya
beli sebetulnya masih cetakan pertama.
Kalo saya lihat di resensi orang lain, ada juga yang sudah membeli saat
cetakan kedua. Jadi, apakah tolak ukur
best seller karena masalah jumlah cetakan? I dunno J
Dwitasari mampu
merangkai kata dengan baik dan cukup enak dibaca, tapi saya nggak bisa melihat
bahwa ia merangkai kata dengan hati.
Terasa kosong, dan kebanyakan metafora yang menurut saya nggak
perlu. Entah apa ini emang ciri khas
Plot Point atau gimana, yang jelas tiap kali saya beli buku dari penerbit ini
emang kayak gitu rata-rata, mengedepankan metafora yang terlalu bertebaran ke
sana kemari.
Well, saya sendiri
sudah bilang di review “Ketika”, saya nggak suka buku yang bertaburan dengan
metafora namun kosong maknanya. Memang
agak sulit untuk bisa membuat sesuatu yang bertabur metafora namun tetap bisa
membuat saya tetap semangat membacanya seperti Norwegian Wood, jadi kalo
menurut hemat saya, alih-alih menggunakan kata-kata kosong lebih baik memakai
kata-kata yang memang berasal dari hati.
Mentor saya (secara tidak langsung ia adalah mentor) yang bernama Steve
mengatakan bahwa jika ingin sebuah karya dianggap layak, mulailah menulis
sesuai dengan gaya bicara masing-masing individu. Ini bener-bener terjadi, saya bisa jamin
bahwa jika ada penulis yang menulis dengan gaya bicaranya sendiri, maka dengan
sendirinya gaya khas pengarang akan muncul dan nggak akan kehilangan kata, dan
nggak akan membuat sesuatu yang kosong.
Lanjut lagi ke
review tentang isi buku, saya di sini dapet kesan kalo Bianca malah melarikan
diri saat ibunya kena masalah, padahal harusnya tetap bisa bertahan, ya.
Maksudnya, kalo emang kasian kenapa harus ke Jogja? Kenapa nggak bareng sama ibunya aja? Well, mungkin maksud penulis supaya ada
cerita ketemu dengan raksasa ya, wong judulnya aja Raksasa Dari Jogja. Tapi tetep aja sih saya mah nggak akan tega
ninggalin ibu saya dalam keadaan seperti itu :(
Terus yang bikin
aneh: Bianca nggak kenal cinta. Menurut
saya harusnya dia nggak kenal kata suka juga.
Tapi kenapa sakit hati pas Joshua direbut Letisha? Lah, katanya ia tidak
mengenal cinta? Jadi harusnya sih gini:
Bianca nggak kenal cinta, tapi perlahan hal tersebut luntur saat menyaksikan
Joshua melakukan sesuatu, entah apa itu.
Ketulusan yang dimiliki Joshua yang membuat Bianca bertanya-tanya apakah
ia mulai bisa mengerti cinta jika mencoba menyukai Joshua? Hatinya yang sakit itu karena ia merasakan
ironi, pada saat bersamaan sesungguhnya Bianca sudah mulai mengenal apa itu
cinta, tapi hal itu akibat ulah Letisha yang terkesan merebut Joshua
darinya. Nah, kalo alurnya kayak gitu
kayaknya bisa disebut pas, deh.
Dan omong-omong
soal Gabriel, saya nggak ngerti akan suatu hal.
Kalo memang Gabriel digambarkan nggak ganteng, saya nggak bisa nangkep
itu karena sejak awal cerita pun digambarkan bahwa ia berdada bidang. Hmm, ini mah persepsi saya aja sih, tapi
cowok-cowok berdada bidang bukannya biasanya agak ato punya daya tarik ke arah
ganteng ya? Atau bisa disebut
menarik? Ini yang menurut saya agak
rancu, harusnya sih kalo emang mau menggambarkan bahwa Gabriel tidaklah seperti
cowok lain, kayaknya soal itu nggak usah disorot berulang-ulang, bahkan nggak
perlu. Harusnya yang disorot, misalkan “matanya
yang bening” atau “lesung pipitnya yang justru menambah keanehan mukanya entah
kenapa bisa membuat Bianca takjub”, atau hal-hal kayak gitulah. Jadi meskipun nggak ganteng tapi Gabriel
punya poin lain yang nggak dimiliki oleh laki-laki lain, karena kalo poinnya
hanya dada yang bidang itu mah kesannya malah jadi ngegambarin cowok ganteng (abis
rata-rata penilaiannya emang gitu kan :p
)
Terus satu hal
lagi, kayaknya soal Jogja kota istimewa juga nggak harus ditulis berulang-ulang
deh, semua orang juga tahu Jogja istimewa.
Kalo mau tulis sesuatu yang berkaitan dengan keistimewaan itu secara
tersirat yang bisa membuat orang kagum dan ngerasa baru ngeh Jogja itu
istimewa. Soalnya kalo saya pribadi,
saya sih nggak mau balik lagi ke Jogja berhubung saya tidak merasakan
keistimewaannya J
Overall, saya
nggak bisa sebut ini istimewa meskipun best seller, tapi saya salut sama
penulis karena karyanya best seller.
Well, mungkin ada poin lain yang nggak bisa saya lihat kenapa bukunya
bisa best seller J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar