Judul: Sesuatu Yang Tertunda
Penulis: Sky Nakayama
Halaman: 207 hlm
Rilis: April 2013 oleh Plot Point
Lanjutan dari Autumn Changes My Heart, fufufu. Saya beli buku ini keesokan harinya setelah saya menamatkan buku yang baru saya buat reviewn-ya tadi. Lumayan buat mengurangi stres, tapi sisi jeleknya saya pengen cepet-cepet nulis buku lagi :')
3,5 from 5 star
Sinopsis:
Sepasang kakak adik bernama Arian dan Aria dipertemukan dengan tetangga baru bernama Alina. Dengan sekali lihat saja, Aria sudah tahu bahwa Arian naksir dengan tetangga barunya. Ia juga tahu tetangganya itu pasti akan jatuh hati pada pandangan pertama pada kakaknya karena ia jauh lebih ramah dan sangat supel. Berbanding terbalik dengan dirinya yang kaku, pendiam, dan susah bergaul.
Namun Aria tidak bisa menyangkal jantungnya yang berdebar-debar kala ia tidak sengaja berlama-lama mengintip Alina dari jendelanya, yang ternyata berhadapan langsung dengan jendela kamar gadis itu. Perkenalan mereka membawa pada kebimbangan yang dirasakan oleh Aria karena ia ingin bisa memberi kesempatan pada kakaknya untuk mengenal Alina lebih jauh. Namun takdir sama sekali tidak bisa ditebak; justru gadis itulah satu-satunya yang bisa menghilangkan keresahan yang dirasakan setelah ditinggal mantan pacarnya.
Gadis bernama Alina itu sebatang kara. Kematian kakaknya membuat ia terus membuat tembok agar tidak ada satupun yang masuk ke relung hatinya. Alina merasa heran, karena tembok itu perlahan runtuh ketika ia mulai berusaha untuk mencari tahu sosok salah satu di antara kakak beradik tersebut. Kehadiran Dio, sahabatnya yang kini muncul setelah lama menghilang, ikut mengusik hidupnya. Kisah yang tertunda perlahan terbuka ketika benang merah setiap kejadian terurai di hadapan mereka semua.
Review:
Jalinan kata yang diciptakan Sky Nakayama di awal cerita menarik, membuat saya ingin terus membaca sampai suatu titik jenuh saat saya sadar, ada beberapa adegan yang ternyata sebetulnya berlainan tapi sama sekali nggak ada jeda. Makin jenuh saat bagian akhir karena kesannya dipercepat. Makin jenuh saat sadar bahwa setting cerita bisa dibilang nggak jelas.
Kenapa nggak jelas? Gini ceritanya.
Saya menebak kemungkinan setting di daerah Jakarta dan sekitarnya. Oke, itu sih nggak usah terlalu dipikirin, tapi masalah setting waktu bikin saya bingung, kadang-kadang. Jadi kapan sebetulnya ini terjadi, terus kok tiba-tiba bisa udah di sini, bikin saya bingung. Kalo menurut saya ini pengaruh dari sedikitnya jumlah halaman naskah jadi dari sisi penceritaan juga agak kurang. Soalnya kalo saya, biasanya harus nulis di atas 100 halaman baru bisa ngerasa agak puas. Soalnya bisa jelas, kapan ini terjadi, ini lagi di mana, dan sebagainya.
Yang bikin saya agak males dan mempercepat bacaan dipengaruhi juga sama konfliknya yang cenderung datar. Kalo saya pribadi masih nggak ngerti kenapa Aria bisa cerita sama Anggi, tapi kenapa sama Alina nggak? Well, mungkin karena "nggak mau ngerepotin Alina"itulah faktornya, tapi harusnya dipertegas bahwa itu yang dimaksud. Terus tiba-tiba nggak tahu kenapa, karena kalut, kepikiran soal Anggi. Entah kenapa dia harus cerita sama Anggi (yang notebene mungkin karena dia udah nggak ada kaitan lagi, makanya bisa cerita). Kayak gitu bakalan lebih bagus.
Alurnya juga kayaknya kecepetan, ya. Atau emang perasaan saya saja? Soalnya bagian akhir cerita terlihat buru-buru. Tapi ending ditutup dengan manis, saya suka bagian itu karena meskipun menggantung, mampu memberi harapan pada pembaca bahwa Aria bisa jadian dengan Alina :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar